Hakikat Salat

5 Juli 2009 at 1:44 PM (B.b. hikmah)

By M Quraish Shihab
Jumat, 03 Juli 2009
Hakikat SalatWORDPRESS.COM

Lima belas abad lalu Rasul SAW kembali dari perjalanan Isra’, membawa petunjuk Ilahi tentang salat lima kali sehari, kewajiban yang diketahui oleh semua muslim dari generasi ke generasi. Menghadapkan jiwa raga kepada Tuhan merupakan kewajiban keagamaan, karena diyakini bahwa Tuhan menguasai alam raya. Dia menciptakan, mengatur, dan menetapkan hukum-hukum (alam) menyangkut sistem dan tata kerjanya. Dia menguasai hidup dan kehidupan. Manusia, lebih-lebih para ilmuwan membutuhkan kepastian tentang tata kerja alam ini demi pengembangan ilmu dan penerapannya. Kepastian ini tidak dapat diperoleh kecuali dengan keyakinan adanya pengendalian dan penguasa tunggal yang Maha Esa itu, Allah SWT.

Dengan salat, hati, pikiran, lisan, dan anggota tubuh, mengejawantahkan keyakinan tersebut. Di sini salat telah menjadi kebutuhan bukan lagi beban, atau kewajiban. Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan harap, ia selalu membutuhkan sandaran, terutama pada saat-saat cemas. Kenyataan membuktikan bahwa bersandar kepada makhluk betapapun kekuatan dan kekuasaannya seringkali tidak membuahkan hasil. ”Hai manusia kamulah orang-orang yang miskin (butuh) kepada Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (Q. S: 35: 15).

Seorang muslim dalam salatnya menghimpun segala bentuk dan cara penghormatan dan pengagungan yang dikenal umat manusia, di sana ada isyarat penghormatan dengan tangan,.. berdiri tetak, menunduk (ruku’), sujud,.. ada puji-pujian, ada doa dan harapan. Penghormatan dan pengagungan ini merupakan salah satu esensi salat. Di sisi lain salat secara harfiah berarti permohonan. Ini berarti yang salat melakukan permohonan kepada Allah. Tidak adil bagi yang salat, bila hanya permohonannya yang dia harapkan terkabul, sedang orang lain yang meminta kepada si pemohon itu, dia abaikan. Bahkan orang semacam ini kata Quran bakal celaka hidupnya. ”Celaka yang salat tapi lengah akan salatnya, mereka yang riya’ bermuka dua dan enggan memberi pertolongan.” (Q. S: 107: 5-7).

Hanya lima kali sehari Allah mengundang kita menghadap kepadaNya. Malu rasanya kita, yang memperoleh anugerahNya yang tak terbilang, mengabaikan ajakan itu, apalagi salat merupakan kebutuhan kita sendiri. Malu pula rasanya apabila hanya pada saat-saat terdesak, pada saat cemas dan mengharap, kita baru berkunjung ke hadiratNya. - ahi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Lapang Dada

5 Juli 2009 at 1:43 PM (B.b. hikmah)

By A. Ilyas Ismail, MA
 April 2009 

Lapang Dada

Istilah lapang dada, secara simbolik digunakan Allah SWT untuk menunjuk orang-orang yang kepadanya Ia berkenan memberi petunjuk atau hidayah, terutama hidayah iman dan Islam. Karena itu, seperti dituturkan Muhammad Ghazali dalam bukunya Khuluq al-Muslim, tak ada nikmat dan anugerah yang amat besar selain nikmat bersih hati dan lapang dada.

Allah berfirman, ”Siapa-siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, maka Dia melapangkan dadanya. Dan siapa-siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit” (Q. S. 6: 125).

Nabi Muhammad sendiri, disebut Allah SWT sebagai orang yang telah dilapangkan dadanya (Q. S. 94: 1). Menurut Muhammad Ali al-Shabuni dalam buku tafsirnya Shafwat al-Tafasir, yang dimaksud dengan dilapangkan dadanya ialah bahwa hati Nabi SAW telah dipenuhi dengan iman, diterangi dengan cahaya kebajikan dan kebenaran, serta disucikan dari berbagai kotoran dan dosa-dosa. Di dalam dada yang lapang dan hati yang bersih itulah bersemayam iman dan takwa. ”Tempat takwa itu di sini!” sabda Nabi Muhammad SAW, sambil menunjuk ke dadanya.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Abdullah bin ‘Amr dibikin penasaran oleh ”keistimewaan” salah seorang Anshar. Pasalnya, setiap kali melihat orang itu, Nabi SAW selalu berkata, ”Ini dia calon penghuni surga!” Setelah diteliti dan diselidiki, Abdullah menjadi tahu keistimewaan orang itu. Dia adalah orang yang bersih hati dan lapang dada. (H.R. Ahmad).

Orang yang bersih hati dan lapang dada, seperti dikemukakan di atas, tak lain adalah orang-orang yang mampu menekan secara maksimal kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada dalam dirinya, seperti rasa benci, dengki, iri hati, dan dendam kusumat. Sebaliknya, ia juga mampu dan berhasil mengembangkan potensi-potensi baik yang ada dalam dirinya menjadi kualitas-kualitas moral (akhlaq al-karimah) yang nyata dan aktual dalam kehidupannya.

Hanya orang yang lapang dada dan bersih hati seperti itu mampu dan sanggup mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, seperti dianjurkan oleh Nabi SAW. Juga hanya orang seperti itu yang dapat merasa senang dan gembira apabila melihat saudaranya mendapat kebaikan dan anugerah dari Allah SWT.

Orang yang demikian itu pula yang kelak akan mendapat perlindungan dari Allah SWT. Firman-Nya, ”(Ingatlah) pada hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih dan lapang.” (Q.S. 26:89). Semoga kita menjadi orang yang selalu berlapang dada. - ahi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Saling Mengingatkan

5 Juli 2009 at 1:37 PM (B.b. hikmah)

By Hudan Mudaris
 2009
Saling MengingatkanIMAGESHACK.US

 

 ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan mereka yang saling mengingatkan tentang kebenaran dan saling mengingatkan tentang kesabaran.” (QS Al-Ashr [103]: 1-3).

Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk sosial dan ditugaskan sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, secara naluriah, setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup bermasyarakat.

Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seorang manusia senantiasa bergantung pada manusia yang lain (zon politicon). Hal ini mengharuskan setiap orang untuk bahu-membahu mewujudkan kebutuhan masing-masing secara kolektif.

Juga mewujudkan kesejahteraan bersama serta menciptakan harmoni sosial. Harmoni sosial menjadi sangat penting karena selain menjadi tujuan, ia pun menjadi landasan bagi lancarnya aktivitas sosial yang lain.

Agar terjalin hubungan yang harmonis, setiap individu harus menghargai peran dan fungsi masing-masing, taat pada nilai-nilai hukum yang berlaku (agama, adat istiadat, dan perundang-undangan), dan tidak melakukan pelecehan hak asasi manusia (HAM).

Setiap tindakan yang menegasikan nilai-nilai tersebut, merupakan perilaku antisosial yang mengancam ketenangan dan ketenteraman masyarakat. Apabila terjadi penyimpangan, masyarakat harus berani melakukan kritik untuk meluruskannya.

Setiap manusia tidak akan terlepas dari kesalahan yang disengaja maupun tidak. Karena itu, selain sikap toleransi, sikap kritis pun harus dibangun sebagai upaya kontrol saling mengingatkan demi kepentingan bersama.

Surat Al-Ashr di atas menegaskan bahwa saling mengingatkan adalah upaya dakwah yang menjadi kewajiban setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat. Apabila manusia tidak saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran, baik mengenai urusan duniawi maupun ukhrawi, manusia akan mengalami kerugian.

Dalam kitab tafsir Munir ditegaskan bahwa kebenaran dalam ayat tersebut mencakup pada upaya mempertahankan keyakinan dan ketakwaan. Untuk memperkuat ketakwaan, seorang Muslim tidak hanya dituntut melakukan ibadah ritual, tapi juga menegakkan keadilan sosial adalah sebuah upaya menegakkan ketakwaan.

Allah SWT berfirman, ”Berlaku adillah, sesungguhnya adil itu lebih dekat dengan takwa.” (QS Almaidah [5]: 8). Wallahu a’lam bis-sawab.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Dimensi Kemusyrikan

5 Juli 2009 at 1:30 PM (B.b. hikmah)

By Syaefudin Simon 
Dimensi KemusyrikanCORBIS/ILUSTRASI

Tak sedikit orang yang mengira bahwa syirik adalah menyekutukan Allah dengan menyembah berhala atau mengaku dirinya sebagai Tuhan seperti yang dilakukan Firaun. Menurut agama, menyekutukan Allah mencakup dimensi yang sangat luas: Dari gaya Firaun yang mengaku sebagai Tuhan sampai cara berfikir bahwa uang adalah segala-galanya.

Orang yang menganggap batu cincin yang dipakainya berkhasiat melariskan dagangannya, sebagai contoh, termasuk musyrik. Meminta keselamatan pada dukun, mohon perlindungan dari jin, dan bahkan bekerja sama dengan jin untuk tujuan-tujuan tertentu, juga termasuk bentuk kemusyrikan. Dalam hal terakhir ini, orang tersebut tidak hanya musyrik karena menganggap jin bisa dimintai pertolongan (QS. 1:5), tapi juga telah mencampuri ‘wilayah gaib’ yang merupakan hak prerogatif Tuhan.

Lebih jauh, Alquran memperingatkan tentang bentuk kemusyrikan yang bercokol di hati manusia dengan mempertanyakan: Pernahkah kau melihat orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsunya? (QS. 45:23). Dari ayat ini tampak, siapa saja yang orientasi perbuatannya untuk kepentingan hawa nafsunya, berarti ia menjadi musyrik.

Kesombongan, misalnya, termasuk salah satu bentuk kemuysrikan. Ini karena manusia tak berhak untuk sombong. Rasulullah saw menjelaskan, ”Jika ada setitik kesombongan dalam hati manusia, niscaya Tuhan tak akan memasukkannya ke dalam sorga.” Mengumbar hawa nafsu, sombong, dan merasa paling berkuasa merupakan tiga bentuk kemusyrikan yang sering tak disadari manusia. Nafsu ingin kaya dengan menghalalkan semua cara, seperti korupsi, manipulasi, dan lain-lain penyelewengan — termasuk bentuk kemusyrikan. Merasa dirinya ‘lebih’ dari orang lain sehingga ia merasa berhak untuk ‘berkacak pinggang’ juga termasuk bentuk kemusyrikan. Dan, merasa dirinya paling berkuasa sehingga tidak mau menerima kritik dan saran orang lain, itu pun termasuk bentuk kemusyrikan. Sebab, hanya Allah yang punya kekuasaan mutlak tanpa cacat.

Demikian kompleks dan tersamarnya kemusyrikan, sampai-sampai Sayyidina Ali menyatakan, ”Kemusyrikan itu bagaikan semut hitam yang merambat di ranting hitam di tengah hutan lebat pada malam gelap gulita.” Nah, mari kita selidiki secara cermat, apakah dalam hati kita juga bersemayam kemusyrikan yang demikian sublim tadi. Untuk itu, pertanyaan-pertanyaan ini patut diajukan pada hati sanubari kita.

Apakah kita termasuk majikan yang meniadakan hak-hak pekerjanya; apakah kita termasuk politisi yang sengaja menghilangkan hak-hak rakyat yang diwakilinya; apakah kita termasuk penguasa yang menutup hak-hak rakyat untuk mengoreksi dan mengkritiknya; apakah kita termasuk ibu rumah tangga yang memotong hak-hak para pembantunya; apakah kita termasuk orang yang minta bantuan dukun untuk melicinkan tujuannya; apakah kita termasuk orang yang memiliki jin untuk melindungi bisnisnya? Jika itu terjadi pada diri kita, mari beristighfar dan bertobat.

Sebab, semua itu adalah bentuk-bentuk kemusyrikan yang tersamar. Jika tidak bertobat, Allah akan menimpakaan azab kepada kita di dunia maupun akhirat. Na’udzubillah min dzaalik! - ahi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Jangan Pelihara Rasa Benci

5 Juli 2009 at 1:28 PM (B.b. hikmah)

By Apud Saepudin
Rabu, 2009
Jangan Pelihara Rasa BenciCORBIS/ILUSTRASI

Suatu hari, ketika Nabi saw sedang berkumpul dengan para sahabat di dekat ka’bah, seorang lelaki asing lewat di hadapan mereka. Setelah lelaki itu berlalu, Nabi berujar kepada para sahabat, ”Dialah ahli surga.” Dan hal itu dikatakannya sampai tiga kali.

Atas pernyataan Nabi tersebut, timbul penasaran di kalangan para sahabat, terutama Abdullah bin Umar yang memang dikenal sangat kritis. ”Ya, Rasulullah,” tanya Abdullah, ”Mengapa engkau katakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalnya sebagai sahabatmu? Sedang terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu?”

Lalu sebagai seorang uswah, Nabi memberikan jawaban diplomatis yang sangat bijak. ”Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan engkau tanyakan sendiri kepadanya.” Karena rasa penasarannya sangat tinggi, suatu hari Abdullah bin Umar menyengajakan diri untuk berkunjung ke rumah orang asing itu.

”Ya, akhie,” kata Abdullah, ”kemarin sewaktu engkau lewat di hadapan kami, Rasulullah mengatakan bahwa engkau seorang ahli surga. Apa gerangan yang menjadi rahasianya sehingga Rasulullah begitu memuliakanmu?”

Lelaki itu tersenyum, kemudian menjawab, ”Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak memiliki kekayaan apa-apa. Baik ilmu maupun harta yang bisa kusedekahkan. Yang kumiliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang-orang kafir sekalipun.”

Memelihara perasaan benci dan marah, berarti menyimpan egoisme. Adanya perasaan benci, berarti adanya sikap untuk menyalahkan orang yang dibenci itu. Dan menyalahkan orang lain berarti membenarkan sikap dan tindakan sendiri.

Padahal sikap semacam itu sudah sejak awal diklaim syetan pada penciptaan Adam as. Kisah tersebut memberikan gambaran kepada kita, bahwa perasaan benci, bukan hanya mengakibatkan fitnah dan permusuhan, tetapi juga dapat menimbulkan penyakit batin yang sangat fatal, sekaligus menjauhkan diri dari surga yang menjadi dambaan setiap mukmin.

Sehingga sikap yang paling bijaksana adalah, selalu berusaha untuk mengintrospeksi diri, sekaligus menjadi orang yang pemaaf. Sebab itulah yang selalu dilakukan Nabi sepanjang perjalanan hidupnya. Sedangkan hidup Nabi adalah contoh bagi setiap mukmin. - ahi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Cinta atau Mahabbah

5 Juli 2009 at 1:25 PM (B.b. hikmah)

Cinta atau MahabbahFLICKR/GABISA MOTONIA

Salah satu sentral maqamat tasauf adalah cinta atau mahabbah, dan tokoh sufi yang biasa menjadi acuan maqamat cinta ini adalah Rabi’ah al- ‘Adawiyah. Ketika Rabi’ah ditanya apakah ia membenci setan, ia menjawab bahwa cintanya kepada Tuhan tidak memberi tempat di dalam hatinya untuk membenci kepada siapa pun. Dalam konsep tasauf, tingkat cinta Rabi’ah al- ‘Adawiyah itu merupakan cinta yang tertinggi kualitasnya.

Dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din, Imam Ghazali menjelaskan bahwa kualitas cinta terbagi menjadi empat tingkatan. Pertama, cinta diri (al-muhibb linafsih), yakni orang yang hanya mencintai dirinya saja. Segala macam kebaikan, kesetiaan, pengorbanan, dan kesungguhan orang lain diukur dengan apakah berhubungan dengan kesenangan dirinya atau tidak. Cinta model ini, Imam Ghazali menyebutnya sebagai yang terendah kualitasnya.

Kedua, adalah cinta kepada orang baik sepanjang kebaikan orang lain itu membawa kebaikan bagi dirinya (al-muhsin alladzi ahsana ilaihi). Ia siap membayar cinta dengan cinta, kehangatan dengan kehangatan, pemberian dengan pemberian. Sebaliknya, jika orang itu menjadi dingin ia pun membalasnya dengan dingin, bahkan ia pun siap dengan kebencian manakala orang itu membencinya.

Kualitas cinta seperti ini tak ubahnya seperti cinta pedagang, artinya ia siap memberi sebanding dengan apa yang ia terima, pedagang pekerjaannya mencari keuntungan, dan kalau ia mau bersusah payah adalah karena ia membayangkan keuntungan yang bakal diterimanya. Psikologi cinta pedagang, menurut Ghazali, adalah terletak pada kepuasannya menerima, bukan pada memberi.

Ketiga, adalah cinta kepada orang baik meskipun ia tidak memperoleh apa pun dari orang baik itu. Kualitas cinta seperti ini seperti cinta seseorang kepada Nabi SAW atau kepada ulama terdahulu. Meski tak pernah berjumpa dengan mereka, ia mencintainya, ingin meniru kebaikannya, mau berkorban demi ide-idenya. Bahkan ketika mempunyai anak, ia memberi nama dengan namanya. Psikologi cinta orang seperti ini, Ghazali menjelaskan, terletak pada kepuasan memberi, bukan kepuasan menerima.

Keempat, adalah cinta kepada kebaikan an sich, tanpa embel-embel (al ihsan mahdlah). Bagi orang yang memiliki kualitas cinta seperti ini, kebaikan, ketulusan, kesungguhan, pengorbanan adalah suatu nilai yang bisa berpindah-pindah. Orang memang terkadang baik, tulus, dedikatif, tetapi suatu saat bisa berubah sebaliknya.

Karena itu, orang yang memiliki cinta kualitas tertinggi ini tidak melihat orang, tetapi sifatnya. Sebagai misal, penjahat yang kemudian bertaubat lebih ia cintai dibanding ulama yang kemudian murtad. Ketulusan orang kecil, lebih ia cintai dibanding kefasikan pembesar. Cinta dalam kualitas seperti inilah yang dapat mengantar orang pada cinta kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang Mahabaik, Tuhan adalah kebaikan itu sendiri. Semoga kita dapat mencapai cinta yang berkualitas tinggi ini. - ahi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kesalehan Sosial

5 Juli 2009 at 1:25 PM (B.b. hikmah)

By AM Fatwa
Rabu, 29 April 2009
Kesalehan Sosial

Agama secara universal mengajarkan tanggung jawab. Sebagai agama, pertama-tama Islam meletakkan rasa tanggung jawab itu kepada setiap pribadi melalui ajarannya yang kuat bahwa setiap orang akan dihadapkan pada Yaumul Hisab atau Hari Pengadilan Tuhan di akhirat nanti. Namun, karena setiap perbuatan pribadi akan menyebabkan berbagai implikasi kemasyarakatan, maka tanggung jawab pribadi itu membawa akibat adanya tanggung jawab sosial. Inilah yang kita pahami dari rahasia susunan ayat-ayat Alquran bahwa setiap kali Kitab Suci itu menyebut kata iman (aamanu) — yang merupakan persoalan pribadi — selalu diikuti dengan penyebutan amal saleh (aamilus-shalihaat) — yang merupakan tindakan kemasyarakatan.

Hal yang sama kita pahami dari sabda Nabi Muhammad SAW tentang kesempurnaan iman seorang mukmin. Nabi SAW menjelaskan, ”Yang paling sempurna iman orang mukmin adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Muslim). Jadi, iman yang mempribadi wujudnya adalah akhlak atau tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat.

Belakangan ini banyak orang mulai memprihatinkan bahwa seolah-olah di masyarakat kita sedang terjadi perkembangan yang kontradiktif. Di satu pihak muncul kegairahan untuk pengajian dan lain-lain dalam rangka mendalami agama, namun kenapa di sisi lain terjadi berbagai kebobrokan moral masyarakat. Padahal logikanya, bila kecenderungan gairah agama meningkat, mestinya akhlak masyarakat makin baik perkembangannya. Nyatanya yang terjadi malah sebaliknya, kemerosotan akhlak makin menjadi persoalan yang makin memprihatinkan.

Karena itu, barangkali kita perlu merenungkan kembali pembinaan keberagamaan kita lebih substansial. Pengajian saja tentunya belum mencukupi untuk menciptakan kesalehan sosial.

Dengan meningkatnya gairah memahami agama, masyarakat harus terdorong moralnya untuk membentuk kekuatan-kekuatan amar ma’ruf nahi munkar yang mampu ”memaksa” umat menepati janji-janji sosial atau kewajiban kemasyarakatannya sesuai kedudukan dan martabat mereka. Janji umaro (birokrat) adalah menegakkan hukum dan berlaku adil. Janji ulama adalah menyampaikan kebenaran sampai berfungsi sebagaimana idealnya. Janji para aghniya’ (orang kaya) adalah berzakat, infak, dan sedekah. Janji para pedagang adalah jujur dan tidak mencurangi timbangan. Janji kaum dhuafa adalah mendoakan dan mematuhi para pemimpin.

Semua bentuk janji atau kewajiban di atas tidak lain merupakan bagian dari akhlakul karimah dari masyarakat agama. Apabila janji-janji tersebut di atas tidak terlaksana dengan baik niscaya masyarakat akan menghadapi bahaya keruntuhan akhlak. Barangkali sudah saatnya dalam GBHN mendatang dirumuskan masalah pengembangan akhlak bangsa dalam wacana pembangunan nasional kita, sehingga bukan saja kemakmuran material yang kita capai, melainkan juga terciptanya peradaban kemanusiaan yang adil dan beradab. – ahi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Miskin dan Kaya

5 Juli 2009 at 1:21 PM (B.b. hikmah)

By A Ilyas Ismail MA
 

Miskin dan Kaya DAYLIFE

Masalah si miskin dan si kaya pernah menjadi perdebatan sengit di kalangan para sufi. Siapa yang lebih baik di antara keduanya? Si miskin yang sabar atau si kaya yang pandai bersyukur dan murah hati? Sebagian sufi, seperti Harits al-Muhasibi dan Imam al-Ghazali, memberikan keutamaan (afdhaliyah) kepada si miskin. Sedang sufi lain memberikan keutamaan justru kepada si kaya dengan merujuk kepada sehabat-sahabat Nabi saw, yang hartawan, tapi dermawan, semacam Utsman Ibn ‘Affan dan Abdul Rahman Ibn ‘Auf. Sementara Ibn Taimiyah, pembaharu pramodern yang sangat kritis terhadap tasawuf, mengemukakan pemikiran baru dalam masalah ini. Dalam buku bertajuk Al-Shufiyah wal-Fuqara, Ibn Taimiyah memberikan keutamaan bukan kepada si kaya atau si miskin, melainkan kepada orang yang lebih bertakwa di antara keduanya. (Kitab Al-Shufiyah wal-Fuqara’, Hlh. 25-26).

Menurut Ibn Taimiyah, bila kebaikan si miskin lebih banyak, maka ia lebih utama. Sebaliknya, bila kebaikan si kaya lebih banyak, maka si kaya lebih baik. Jika kebaikan mereka sama, maka kemuliaan mereka sederajat dan setingkat. Hanya, dalam kasus ini, tutur Ibn Taimiyah, si miskin lebih dahulu melangkah ke sorga daripada si kaya. Karena langkah si kaya tertahan sejenak di depan pintu sorga lantaran harus menyelesaikan perhitungan (hisab) mengenai harta dan kekayaan yang dimiliki.

Miskin dan kaya, seperti dikemukakan Ibn Taimiyah di atas, tidak menjadi dasar keutamaan seorang. Dasar mengenai itu, tetap iman dan takwa. Di sini, miskin dan kaya hanya dapat diidentifikasi sebagai alat uji semata. Sebagai alat uji, keduanya diyakini dapat memberi pengaruh terhadap perilaku manusia, baik maupun buruk. Pengaruh ini, tentu sangat bergantung kepada kesiapan mental penerima ujian. Untuk itu, ada manusia yang tidak siap dengan kemiskinan, sehingga kemiskinan, seperti kata Nabi saw, dapat mendekatkan manusia kepada kekufuran. (HR Baihaqi). Sebaliknya, banyak pula manusia yang tidak siap dengan kekayaan, sehingga kekayaan membuat dirinya menjadi pelit dan sombong. Inilah makna firman Allah, ”Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Al-’Alaq: 6-7).

Sebagai alat uji, kefakiran dan kekayaan itu tidak kekal, tapi bersifat dinamis, artinya berubah dan berputar. Nabi Muhammad sendiri, pada mulanya tergolong miskin, tapi kemudian Allah swt membuat dirinya kaya (Al-Dhuha: 9). Maksud kaya di sini, menurut sebagian besar ahli tafsir, adalah kaya harta. Hal ini, karena perkataan ‘dibuat kaya’ (Aghna) dalam ayat ini disandingkan dengan perkataan miskin (‘Aailan).

Namun, menurut Abdullah Yusuf Ali, kaya di situ lebih menunjuk pada kekayaan rohani dan spiritual. Dengan kekayaan ini, lanjut Yusuf Ali, Nabi saw bukan saja dapat mengatasi kebutuhan-kebutuhannya yang bersifat duniawi, tetapi juga mampu memusatkan semua perhatian dan seluruh waktunya untuk bekerja dan beribadah kepada Allah swt. Wallahu a’lam! – ahi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bangun Malam

5 Juli 2009 at 9:42 AM (B.b. hikmah)

By Idris Thaha
Selasa, 19 Mei 2009 

Bangun Malam NURULHAYAT.COM

Dalam Wasiat-wasiat, Al-Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi menasihati kita. Bunyinya, ketika turun ke langit dunia pada sepertiga terakhir malam, Allah swt berkata, ”Sungguh berdusta orang yang mengatakan mencintai-Ku, sementara ia tidur dan lalai kepada-Ku. Bukankah setiap kekasih ingin berkhalwah dengan kekasihnya? Akulah yang mendatangi kekasih-Ku. Mereka membayangkan-Ku di kelopak mata mereka. Mereka berbicara kepada-Ku dalam musyahadah, dan bercakap-cakap dengan-Ku dengan khusuk. Di hari kemudian, Aku tatapkan mata mereka pada surga-surga-Ku.”

Nasihat Sufi Andalusia, yang dijuluki Muhyiddin, ini mengisyaratkan agar kita bangun malam, dan memanfaatkan sebagian malam itu untuk beribadah kepada Allah. Nabi Muhammad saw bersabda, ”Hendaklah kalian menunaikan bangun malam, karena bangun malam adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, yang bisa mendekatkan kalian kepada Tuhan, pelebur kesalahan, penghalang dari dosa, dan pengikis penyakit dari tubuh.” (Imam Ahmad dan Tirmidzi). Dalam Islam, istilah bangun malam disebut qiyaam al-layl.

Rasulullah juga berkata, ”Allah menyayangi seorang lelaki yang bangun malam untuk salat, lalu membangunkan istrinya, dan istrinya pun ikut mendirikan salat. Bila istrinya enggan, ia memerciki air ke mukanya. Dan, Allah menyayangi seorang perempuan yang bangun malam untuk salat, lalu membangunkan suaminya, dan suaminya pun melaksanakan salat. Jika suaminya menolak, ia menciprati air ke wajahnya.” (Imam Daud dan Ibnu Majah). Suami-istri itu, kata Nabi dalam hadis yang dirawikan oleh Abu Daud dan An-Nasa’i, ditulis sebagai lelaki dan perempuan yang berdzikir kepada Allah.

Lebih jelas, Allah menegaskan pentingnya bangun malam (QS 73: 1-9). HM Thaba’thaba’i, dalam tafsir Al-Miizaan, menjelaskan bahwa yang dimaksud ayat itu (qiyaam al-layl) adalah salat pada malam hari. Nabi berkata, ”Salat yang terbaik setelah salat fardu adalah (salat) bangun malam.” (Muslim).

Menurut Muhammad Abdullah Al-Khatib, dalam Qiyaam al-Layl: Penyegar Jiwa, kita bisa memetik pelajaran dari ayat-ayat itu. Yaitu, agar kita selalu bangun malam (salat), seperti Allah perintahkan kepada Nabi-Nya. Sebagian malam yang kita gunakan beribadah kepada Allah akan mendatangkan pahala besar. Kita juga dituntut untuk membaca Alquran dengan tartil. Yaitu, membaca Alquran secara pelan dan merenungkan makna dan kandungannya secara mendalam.

Bangun malam, kata Al-Khatib, merupakan salah satu standar untuk mengukur cita-cita yang benar dan lurus, dan sebagai tanda dari jiwa yang besar. Biasanya, bangun malam sangat berat dilakukan ketimbang bangun pada saat lain. Bila kita sering bangun malam, maka kita akan terbiasa taat beribadah kepada Allah, dan kita mampu membiasakan diri menanamkan keimanan dalam hati dan di relung jiwa. Bangun malam untuk mengingat Allah dapat menciptakan pribadi muslim yang tepercaya dan mewujudkan masyarakat yang disirami hidayah. – ahi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Fungsi Doa

5 Juli 2009 at 9:40 AM (B.b. hikmah)

By Abdurrahman Arrosi
Jumat, 22 Mei 2009

Fungsi Doa

Wanita sufi Rabiah Al Adawiyah, sedang berlayar bersama para penumpang lain menuju sebuah pulau kecil. Tiba-tiba badai berhembus dan ombak pun menggila di tengah samudera. Semua cemas, karena maut sudah berada di depan mata. Tetapi ada seorang anak muda berambut sampai ke telinga, terlihat cuma diam seraya bertafakkur. Padahal perahu sudah oleng ke kiri dan ke kanan, air telah menggenang hingga ke mata kaki. Seorang lelaki tua menegur marah, ”Hai, anak muda, tulikah telingamu, butakah matamu? Perahu hampir karam, kamu hanya diam. Berdoalah untuk memperkuat permohonan kami kepada Tuhan.” Dengan tenang pemuda itu menggumam, ”Tiada seorang hamba pun mampu menghalangi kehendak Sang Mahakuasa. ”Lalu ia menunduk kembali, tak ada yang dilakukan kecuali menekurkan kepala dengan khusuk, seraya mengangkat tangan seolah memberi aba-aba agar badai berhenti. Betul, tak lama kemudian, lautan yang ganas menjadi jinak, angin lantas bertiup sepoi-sepoi, dan perahu melaju tanpa goncangan.

Rabiah bertanya takjub, ”Hai anak muda, demi Allah, kekuatan apa yang kau miliki sampai badai dapat kautundukkan dan gelombang bisa kautaklukkan?” Pemuda itu menjawab ramah, ”Kalian orang-orang beriman. Bukankah kita hanya makhluk yang fana? Apa wewenang kita menolak kemauan Tuhan? Apa kekuatan kita menantang kekuasaanNya? Seharusnya, bersabarlah menahan diri dari segala keinginan kita karena Dia, nanti Dia berkenan menahan diri dari keinginan-Nya untuk kita. Jangan mengancam Dia dengan kebiasaan kita, nanti Dia menghancurkan kita dengan kedahsyatan kekuasaanNya.” Jawaban itu tak hanya membuat Rabiah terhenyak dan para penumpang lain tertegun, bahkan perjalanan zaman seakan merekamnya melalui bencana demi bencana yang datang silih berganti. Lihatlah, ilmu siapa yang mampu membungkam gunung kalau hendak meletus, kehebatan bangsa mana yang dapat meredam gempa kalau sudah saatnya harus melanda? Lalu, apakah doa dapat menangkal bencana? Menurut Tuhan, bisa. Alquran menandaskan, ”Bermohonlah kepada-Ku, pasti Kukabulkan bagimu.” (Q. S. 40: 60).

Sayangnya, manusia acapkali berdoa tanpa kesungguhan dan keyakinan akan manfaatnya. Memang mengangkat tangan sambil mengumandangkan rangkaian kata yang indah terdengar seperti doa. Padahal itu cuma upacara, hanya formalitas. Apalagi kalau dibaca di depan pejabat atau para orang besar. Pada hakikatnya getaran hati tatkala seorang hamba tengah mengangkat tangan seraya bermunajat dengan tulus dan pasrah, itulah kekuatan sakral yang mampu mengoyak batas antara makhluk dan Sang Pencipta.- ahi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »