sungai nil

31 Agustus 2009 at 9:52 PM (B.b. hikmah)

Menyingkap Rahasia Sungai Nil

3137860888_a54b2f5360_oOleh: Aep Saepulloh Darusmanwiati, S.Ag

Pendahuluan

‘Apabila tidak ada Nil, maka tidak ada Mesir’. Ungkapan ini, hemat penulis, tidak sepenuhnya salah. Ungkapan ini hendak menggambarkan betapa Mesir sangat bergantung dengan Nil. Hampir seluruh kehidupan Mesir, bersumber dari Sungai Nil. Ini juga barangkali, di antara factor mengapa ketika disebut Nil, maka yang terlintas adalah Mesir, tidak Negara-negara lainnya (padahal Negara-negara yang dilalui Nil mencapai sembilan Negara).

Keberadaan Nil, sebenarnya bukan semata dari segi sumber kehidupan masyarakat Mesir semata, akan tetapi ada yang lebih luar biasa dari itu. Sungai Nil merupakan di antara sungai ‘suci’ tiga agama besar, Islam, Yahudi dan Nashrani.

Bagi Yahudi, Sungai Nil adalah sungai sangat bersejarah, karena Nabiyullah Musa as ketika masih bayi merah dihanyutkan oleh ibunya yang bernama Nyukabad ke sungai Nil. Bagi agama Islam dan Kristen pun demikian. Karena sosok sayyidina Musa as, merupakan seorang Nabi yang diutus oleh Allah dalam dua agama dimaksud sekalipun.

Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Proses

23 Agustus 2009 at 8:48 PM (K KALENDER ISLAM)

asdf

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

manusia adalah sama

23 Agustus 2009 at 8:39 PM (B.c. kata - kata bijak)

jargon-jargon “saya ini orang kecil” ; “saya ini orang bodoh” dan lain sebagainya. sesungguhnya sangat mengerdilkan jiwa manusia yang mulia. betapa tidak seorang tukang sampahpun atau tukang yang lebih rendah dari itu misalnya adalah pemimpin bagi keluarganya dirumah. apalagi bila ia mampu menghidupkan kebesaran jiwa di kalbu anak-anaknya. Bukankah banyak orang-orang besar berasal dari keluarga yang sangat biasa.

tidak ada istilah “orang kecil / bodohkarena dimata Tuhan setiap manusia  sama, karena semua manusia adalah khalifahNya dimuka bumi. Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, Aku hendak jadikan khalifah dimuka bumi QS. Al Baqoroh 2 :30

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PENDINGIN GENERATOR

23 Agustus 2009 at 4:49 PM (pendingin generator)

Mengapa Generator memerlukan pendinginan ?

Generator yang beroperasi selain memproduksi energi listrik juga menghasilkan panas didalam generator..

Sistem pendingin generator diperlukan untuk menyerap panas yang timbul didalam generator sehingga mencegah terjadinya panas lebih yang dapat merusak isolasi.

Panas didalam generator merupakan kerugian yang menurunkan efisiensi generator.

Kerugian yang menimbulkan panas didalam generator meliputi :
• 1. Kerugian tembaga listrik

Konduktor stator dan rotor yang dilalui arus listrik mempunyai nilai tahanan tertentu.

Besarna nilai tahanan ini tergantung pada panjang, luas penampang dan jenis materialnya (biasanya tembaga).

Aliran arus listrik (I) yang mengalir melalui konduktor yang mempunyai tahanan (R) menimbulkan panas.

Besarnya panas ditentukan oleh rumus : Panas = I2 . R ( watt)

• 2. Kerugian besi magnetis

Kumparan rotor Generator dialiri arus searah yang dipasok dari eksiter sehingga menjadi magnet.

Rotor yang berputar menyebabkan medan magnetnya memotong kumparan stator dan membangkitkan listrik.
Tetapi tegangan juga dihasilkan didalam inti statornya sendiri (ingat ggl lawan) sehingga meningkatkan arus Eddy (arus pusar).

Begitu arus mengalir melalui kumparan, arus Eddy juga timbul di dalam inti dan mengakibatkan panas.

Untuk mengurangi besarnya arus Eddy yang menimbulkan panas, maka inti stator dibuat dari lembaran-lembaran plat tipis yang disebut laminasi. Laminasi dibuat dari baja silikon khusus yang diisolasi satu sama lain dengan vernis atau material isolasi lain.

Bagian lain dari struktur stator juga harus diperhatikan untuk mencegah terjadinya arus Eddy.

• 3. Kerugian gesekan dan angin (windage)

Selama rotor berputar pada kecepatan nominalnya, (3000 rpm), maka terjadi peningkatan panas karena pengaruh gesekan dan angin terhadap media yang mengelilinginya.

Panas yang timbul pada item 1, tergantung dari besarnya arus yang mengalir pada kumparan atau oleh besarnya beban , sedang panas yang ditimbulkan oleh item 2 dan 3 hampir konstan tidak tergantung pada beban.

Jumlah kerugian tersebut diatas harus diusahakan kecil hingga tidak lebih dari 2 % dari output Generator.

Oleh karena itu sistem pendingin harus mampu mencegah kenaikan temperatur melebihi batas operasinya.

Macam-macam Pendingin

Untuk menyerap dan membuang panas (disipasi) yang timbul didalam Generator yang sedang beroprasi dapat digunakan beberapa macam media pendingin.

Media pendingin tersebut adalah :
- Udara
- Hidrogen
- Air

Keuntungan dan Kerugian media pendingin

• Pendinginan dengan Udara

Keuntungannya :
- Udara mudah diperoleh dimana saja
- Murah
- Tidak perlu perapat poros

Kerugiannya :
- Kerapatannya cukup besar
- Daya hantar panas rendah
- Koefisien perpindahan panas rendah
- Kebersihannya kurang
Pendinginan dengan Hidrogen ( H2 )
Keuntungan :
- Kerapatannya rendah (¼ nya udara)
- Daya hantar panas tinggi ( 7 kali udara )
- Koefisien perpindahan panasnya tinggi
- Tidak menimbulkan korosi asam
- Resiko kebakaran rendah
- Biaya pemeliharaan Generator rendah
Kerugian :
- Resiko terjadinya ledakan tinggi
( 5% s/d 75% hidrogen di udara )
- Memerlukan sistem perapat poros
- Memerlukan gas antara ( CO2 atau N2 )
- Memerlukan pasok hidrogen
- Memerlukan casing yang kuat untuk menahan tekanan ledak

Pendinginan dengan air

Keuntungan :
- Kerapatannya tinggi ( 4545 lebih besar dari H2 )
- Daya hantar panasnya tinggi ( 3,139 )
- Koefisien perpindahan panas tinggi ( 13,7 )

Kerugian :
- Rumit konstruksi dan operasinya
- Kondisi kimia air harus terkontrol
- Memungkinkan air merembes ke sisi gas
Pengisian dan Pengosongan Hidrogen

Persiapan:
Sebelum melakukan pengisian atau pengeluaran hidrogen dari alternator, maka diperlukan peralatan :

– Gas analizer

– Gas CO2 atau
– N2 Purity meter
Hal yang perlu selalu diingat dalam pengisian dan pengeluaran gas hidrogen ke dan dari Generator adalah hidrogen tidak boleh bertemu langsung dengan udara.

Oleh karena itu digunakan gas antara, yaitu CO2 atau N2. Gas analizer digunakan untuk mengukur dan mengetahui :
• % CO2 in H2
• % CO2 in Air
• % H2 in CO2
Persediaan gas antara ( inert ) harus cukup sehingga tercapai % CO2 in H2 yang disyaratkan.

Sebelum ini dilakukan, sistem minyak perapat harus sudah dioperasikan
dan beroperasi dengan baik.

Kita anggap kondisi Generator habis dioverhaul atau dilakukan pemeliharaan,

Maka urutan pengisian adalah sebagai berikut :

1. Mengeluarkan udara dari alternator dengan CO2
2. Mengosongkan CO2 dengan Hidrogen.
3. Menaikan tekanan hidrogen.

Sementara urutan pengeluaran H2 dari Generator adalah :

1. Mengeluarkan hidrogen dengan CO2.
2. Mengeluarkan CO2 dengan udara kering.

Perosedur Pengisian dan Pengeluaran Gas Hidrogen ( H2 )

Pengisian gas H2 ke dalam generator yang berisi udara atau sebaliknya pengisian udara kedalam generator yang berisi H2 dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

a. Cara langsung
b. Cara tidak langsung

a. Cara Langsung

Udara atau gas H2 yang terdapat dalam generator dikeluarkan dengan cara dihisap sehingga casing generator menjadi Vacum. Kemudian gas H2 atau udara diisikan kedalam generator yang telah vacum tersebut.

o Keuntungan :
- Uap air ( moisture ) maupun debu ( kotoran )
yang terdapat dalam generator ikut terbawa keluar.
- Jumlah gas H2 yang diisikan lebih sedikit,
karena tidak perlu pembilasan (purging ).
- Waktu pengisian lebih singkat dan segera
mencapai kemurnian yang tinggi.
- Tidak memerlukan gas inert CO2sebagai
media perantara.
Kerugian :

- Konstruksi generator harus kokoh agar dapat
menahan vacum dan tekanan H2.
- Memerlukan sistem perapat khusus yang dapat
menahan vacum dan bertekanan.
- Memerlukan pompa vacum.

b. Cara Tidak Langsung

Udara atau gas H2 yang terdapat dalam generator dikeluarkan dengan cara memasukkan gas inert CO2. Gas ini berfungsi sebagai media perantara untuk membilas udara atau gas H2, sehingga mencegah terjadinya percampuran antara udara dan gas H2 didalam generator
Dengan cara ini selain diperlukan adanya gas CO2, jumlah gas H2 yang digunakan juga lebih banyak.
a. Mengeluarkan udara dengan CO2
b. Mengosongkan CO2 dengan hidrogen
c. Menaikkan tekanan hidrogen
d. Menggeluarkan Hidrogen dengan CO2
e. Mengeluarkan CO2 dengan dengan udara

PERAPAT POROS

Fungsi dan Konstruksi

Fungsi utama perapat poros alternator adalah, mencegah gas hidrogen keluar ke atmosfir, karena tekanan gas hidrogen didalam alternator lebih tinggi dari tekanan udara luar.
Sebagai media perapat digunakan minyak pelumas.

Jenis-jenis Perapat

Ada dua tipe perapat yang umum digunakan, yaitu :
a. Perapat radial atau perapat berpermukaan aksial
b. Perapat aksial atau perapat berpermukaan radial.

Permalink & Komentar

Etika (Adab) Buang Air

21 Agustus 2009 at 1:54 PM (B.j. fiqih)

Hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang yang hendak buang air adalah sebagai berikut.

1. Ia mencari tempat yang sepi dari manusia, dan jauh dari penglihatan mereka. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. hendak buang air besar, maka beliau pergi hingga tidak dilihat oleh siapa pun. (HR Abu Dawud dan Tirmizi).

2. Tidak membawa apa saja yang di dalamnya terdapat zikir kepada Allah SWT. Karena, dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah saw. mengenakan cincin yang ada tulisannya Rasulullah, namun ketika beliau masuk WC, beliau melepaskannya. (HR Tirmizi, dan ia menyahihkannya).

3. Masuk toilet/WC dengan mendahulukan kaki kiri, sambil berdoa (yang artinya),“Bismillaahi innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khabaaitsi (Dengan nama Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki-laki dan setan perempuan).” Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. selalu membaca doa tersebut jika hendak memasuki tempat buang air.

4. Tidak mengangkat pakaiannya agar auratnya tidak terbuka.

5. Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang air kecil atau buang air besar. Rasulullah saw. bersabda,“Janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya ketika buang air besar maupun buang air kecil.” (HR Mutaffaq Alaih).
 
6. Tidak buang air di tempat berteduhnya manusia, di jalanan, di mata air, di pohon-pohon yang berbuah. Rasulullah saw. bersabda,“Takutlah pada tiga tiga tempat buang hajat: di aliran air, di tengah jalan, dan tempat berteduh.” (HR Hakim dengan sanad yang baik).

7. Tidak berbicara (ngobrol) pada waktu sedang buang air besar. Rasulullah saw. bersabda,“Jika dua orang buang air besar, hendaklah masing-masing dari keduanya bersembunyi (agar tidak terlihat satu sama lainnya), dan hendaknya tidak saling bercakap-cakap, karena Allah membenci hal tersebut.”

Alat Istinja

Tidak beristinja dengan tangan tulang, atau kotoran hewan. Rasulullah saw. bersabda,“Janganlah kalian beristinja dengan kotoran hewan dan tulang, karena hal itu adalah makanan saudara-saudara kalian dari golongan jin.” (HR Bukhari dan Muslim).
Selain itu, tidak beristinja dengan hal-hal yang mengandung manfaat, seperti pohon rami yang bisa digunakan dengan daun dan yang lainnya dari barang-barang yang bernilai, karena meniadakan sesuatu yang bermanfaat dan merusak sesuatu itu diharamkan.

Tidak menggunakan tangan kanan dan tidak menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Rasulullah saw. bersabda,“Janganlah setiap kalian menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan, dan janganlah cebok di WC dengan tangan kanannya.” (HR Mutaffaq Alaih).

Melakukan istinja dengan ganjil, misalnya dengan tiga batu, jika belum bersih dengan lima batu. Salman r.a. berkata,“Rasulullah saw. melarang kami menghadap kiblat ketika buang air dan melarang istinja dengan tangan kanan, atau menggunakan batu kurang dari tiga, dan melarang istinja dengan kotoran hewan dan tulang.” (HR Muslim).

Jika ingin menggunakan air dan batu, maka terlebih dulu menggunakan batu, kemudian dengan air. Jika cukup dengan salah satu dari keduanya, maka diperbolehkan, hanya saja dengan air itu lebih baik. Aisyah berkata,“Perintahkan suami-suami kalian untuk beristinja dengan air, karena aku malu kepada mereka dan karena Rasulullah saw. terbiasa berbuat seperti itu.” (HR Tirmizi, dan ia menyahihkannya).

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Setelah Buang Air:

  1. Keluar dari tempat buang air dengan mendahulukan kaki kanan, seperti yang biasa diperbuat oleh Rasulullah saw.
  2. Membaca doa,“Ghufraanaka (Ya Allah, ampunilah aku).” (HR Abu Dawud dan Tirmizi). Atau doa,“Alhamdulillaahil ladzii adzhaba ‘annil adzaa wa ‘aafaanii (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan gangguan dariku dan memberikan kesehatan kepadaku).” Atau doa,“Alhamdulillahi al-ladzii ahsana ilayya fii awwalihi wa aakhirihi (Segala puji bagi Allah yang telah berbuat baik kepadaku, dari pertama hingga terakhir).” Atau doa,“Alhamdulillahil ladzi aadzaaqanii ladzdzatahu, wa abqaa fiyya quwwatahu, wa adzhaba ‘annii adzaahu (Segala puji bagi Allah yang telah merasakan kepadaku kelezatannya, mempertahankan kekuatannya kepadaku, dan menghilangkan gangguannya dariku).”

Semua doa di atas ada hadisnya.

Sumber: Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Wudu

21 Agustus 2009 at 1:45 PM (B.j. fiqih)

Wudu disyariatkan oleh Alquran dan Assunah. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian, dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6).
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak diterima salat salah seorang di antara kalian jika ia berhadas, sehingga ia berwudu.” (HR Bukhari).

Keutamaan Wudu

Wudu mempunyai keutamaan yang besar berdasarkan sabda Nabi saw., “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat dengannya?” Para sahabat menjawab,“Ya mau, wahai Rasulullah saw.” Rasulullah saw. bersabda,“Yaitu, menyempurnakan wudu pada saat yang sulit, berjalan ke masjid, dan menunggu salat setelah salat, itulah ribath.” (HR Muslim).

Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang hamba muslim atau mukmin berwudu, lalu membasuh wajahnya, maka akan keluar setiap kesalahan yang ia lihat dengan kedua matanya bersama air atau bersama dengan tetesan terakhir air tersebut. Jika ia membasuh kedua tangannya, maka keluar segala kesalahan yang dikerjakan oleh kedua tangannya bersama dengan air atau bersama dengan tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua kakinya, keluarlah setiap kesalahan yang dilakukan oleh kedua kakinya bersama dengan air itu atau dengan tetesan terakhir air tersebut, hingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (HR Malik).

Hal-Hal yang Diwajibkan dalam Wudu

  1. Membasuh wajah dari kening atas hingga dagu. Allah berfirman, “Basuhlah muka kalian.” (Al-Maidah: 6).
  2. Membasuh kedua tangan hingga siku. Allah berfirman, ”(Dan basuhlah) tangan kalian sampai ke siku.” (Al-Maidah: 6).
  3. Menyapu kepala dari kening hingga tengkuk. Allah berfirman, “Sapulah kepala kalian.” (Al-Maidah: 6).
  4. Membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki. Allah berfirman, “Dan (basuhlah) kaki kalian hingga kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6).
  5. Berurutan dalam berwudu. Pertama, membasuh muka, membasuh kedua tangan, membasuh kepala, kemudian membasuh kedua kaki. Urutan seperti ini yang sesuai dengan firman Allah tersebut.
  6. Muwalah, yaitu menjalankan aktivitas wudu dalam satu waktu tanpa jeda karena memutus ibadah yang telah dimulai itu dilarang. Allah berfirman, “Janganlah kalian membatalkan amal perbuatan kalian.” (Muhammad: 33). Adapun jeda sedikit dapat dimaafkan. Begitu juga karena adanya uzur, seperti persediaan air wudu habis, atau aliran air wudu terhenti, atau pengalirannya membutuhkan waktu lama, pada kondisi tersebut, jeda dibolehkan karena Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.
Catatan: Sebagian ulama memasukkan kata ad-dalku (menggosok, memijit organ tubuh) termasuk hal-hal yang wajib dikerjakan dalam wudu. Dan, sebagian lain menganggapnya sebagai sunah wudu. Pada hakikatnya, ad-dalku adalah kesempurnaan membasuh bagian-bagian tubuh dalam wudu, maka tidak dibuat nama khusus dan hukum tersendiri dalam hal itu.

Hal-Hal yang Disunahkan dalam Wudu

  1. Menyebut nama Allah Taala ketika memulai wudu dengan berkata, “Bismillah,” karena Rasulullah saw. bersabda,“Tidak ada wudu bagi orang yang tidak menyebutkan nama Allah atasnya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad daif, namun karena banyak jalurnya, sebagian ulama mengamalkannya).
  2. Membersihkan telapak tangan hingga tiga kali sebelum dimasukkan ke dalam tempat wudu ketika seseorang baru bangun tidur. Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah seorang dari kalian bangun dari tempat tidurnya, janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam air hingga ia membersihkannya tiga kali, karena ia tidak tahu di mana tangan bermalam.” (HR Mutaffaq Alaih).
  3. Membersihkan gigi dengan siwak. Rasulullah saw. bersabda, “Jika sekiranya aku tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahakan mereka untuk bersiwak setiap kali wudu.” (HR Malik).
  4. Berkumur. Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu berwudu, maka berkumurlah.” (HR Abu Dawud).
  5. Istinsyaq (menghirup air dengan hidung), dan istintsar (mengeluarkan air setelah menghirupnya dengan hidung). Rasulullah saw. bersabda,“Dan sempurnakan dalam melakukan istinsyaq, kecuali apabila engkau dalam keadaan puasa.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmizi).
  6. “Menyela-nyela air ke jenggot, karena Rasulullah saw. menyela-nyela air ke jenggotnya.” (HR Ahmad dan Tirmizi).
  7. Membasuh organ-organ wudu sebanyak tiga kali. Kewajiban membasuh itu hanya sekali, maka membasuh sebanyak tiga kali itu adalah sunnah.
  8. Membasuh telinga bagian luar dan dalam, karena Rasulullah saw. biasa melakukannya.
  9. Menyela-nyela air ke jari-jari tangan dan kaki. Rasulullah saw. bersabda, “Jika engkau berwudu, maka hendaknya menyela-nyela air di jari-jari kedua tangan dan kedua kaki.”
  10. Tayamun, yaitu memulai dengan bagian yang kanan ketika membasuh kedua tangan dan kedua kaki, dengan dalil bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika kalian berwudu, maka mulailah dengan bagian kanan kalian.” (HR Ahmad dan Tirmidzi). Aisyah berkata, “Nabi saw. suka memulai dari yang kanan ketika mengenakan sandal, menyisir, bersuci, dan dalam segala hal.” (HR Mutaffaq Alaih).
  11. Memanjangkan warna putih di wajah dan kaki dengan membasuh leher ketika membasuh wajah, membasuh sedikit dari lengan ketika membasuh kedua tangan, dan membasuh sedikit dari betis ketika membasuh kaki. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih di wajah dan kakinya karena bekas wudu. Maka, barang siapa di antara kalian yang sanggup untuk memanjangkan warna putihnya, hendaknya ia kerjakan.” (HR Mutaffaq Alaih).
  12. “Memulai membasuh kepala bagian depan, berdasarkan hadis yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. membasuh kepala dengan kedua tangannya, kemudian memajukan dan mengembalikannya. Beliau memulai dengan kepala bagian depan, kemudian mengarahkan kedua tangannya ke akhir tengkuknya, lalu mengembalikannya ke tempat semula.” (HR Mutaffaq Alaih).
  13. Membaca doa setelah berwudu. “Asyhadu allaa ilaaha illallah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu, Allahumma ij’alnii minat tawwaabiina, waj ‘alnii minal mutathahhiriin (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang suci).” Berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Barang siapa berwudu, kemudian menyempurnakan wudunya, lalu berdoa, ‘Aku bersaksi tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah,’ maka dibukalah kedelapan pintu surga baginya, dan ia memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR Muslim).

Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Wudu

  1. Berwudu di tempat najis, karena dikhawatirkan najis akan mengenai dirinya.
  2. Membauh lebih dari tiga kali, karena Rasulullah saw. melakukannya tiga kali. Beliau bersabda, “Barang siapa yang menambahnya (lebih dari tiga kali), maka dia telah salah dan zalim.” (HR An-Nasai, Ahmad, dan Tirmizi).
  3. Berlebih-lebihan dalam menggunakan air. Rasulullah saw. berwudu dengan menggunakan air sebanyak takaran dengan telapak tangan. (HR Tirmizi).
  4. Meninggalkan salah satu sunah wudu atau lebih, karena dengan meninggalkan hal tersebut, seorang muslim akan kehilangan pahala. Maka, oleh karena itu, tidak selayaknya sunah wudu ditinggalkan.
  5. Berwudu dengan air sisa wanita, sebab Rasulullah saw. melarangnya. (HR Tirmidzi, dan ia menghasankannya).

Cara Wudu

Orang muslim (yang hendak berwudu) meletakkan tempat air di sebelah kanannya jika memungkinkan sambil membaca basmalah, kemudian ia tuangkan air pada kedua telapak tangannya, sambil berniat untuk berwudu, dan membasuhnya sebanyak tiga kali, kemudian berkumur sebanyak tiga kali, menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya sebanyak tiga kali, membasuh wajahnya dari tempat tumbuhnya rambut hingga jenggotnya, membasuh tangan kanannya hinggga lengan sebanyak tiga kali dengan menyelakan air ke jari-jarinya, membasuh tangan kiri hingga lengan sebanyak tiga kali dengan menyela air ke dalam jari-jarinya, membasuh kepala satu kali dimulai dengan kepala bagian depan kemudian membawa kedua tangannya ke tengkuknya kemudian mengembalikan kedua tangannya ke tempat semula (ke arah depan), mengusap kedua telinganya, luar dan dalam dengan air yang tersisa di kedua tangannya atau mengambil air lagi jika di kedua tangannya tidak tersisa air, membasuh kaki kanan hingga betis sebayak tiga kali dengan menyela air ke jari-jari kaki, membasuh kaki kiri hingga betis sebayak tiga kali dengan menyela air ke jari-jari kaki, dan membaca doa berikut, “Asyhadu allaa ilaaha illallah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu, allahumma ij’alnii minat tawwaabiina, waj ‘alnii minal mutathahhiriin (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang suci).”

Hal ini berdasarkan riwayat bahwa Ali bin Abu Thalib r.a. berwudu, ia membersihkan kedua telapak tangannya hingga bersih, berkumur tiga kali, menghirup air ke dalam hidungnya tiga kali, mengusap kepalanya sekali, membasuh kedua kakinya hingga mata kaki, kemudian berkata, “Aku ingin perlihatkan kepada kalian bagaimana cara bersuci Rasulullah saw.” (HR Tirmizi, dan ia men-sahih-kannya).

Hal-Hal yang Membatalkan Wudu

  1. Sesuatu yang keluar daru dua lubang manusia (kemaluan dan dubur), seperti air kencing, air mazi (lendir yang keluar dari kemaluan karena syahwat), wadi (cairan putih yang keluar setelah kencing), tinja (tahi), kentut, baik yang berbunyi maupun yang tidak berbunyi. Semua itu dikategorikan sebagai hadas. Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak menerima salat salah seorang dari kalian jika ia berhadas hingga ia berwudu lagi.” (HR Bukhari).
  2. Tidur berat jika dilakukan dengan berbaring. Rasulullah saw. bersabda, “Mata adalah tali dubur, maka barang siapa yang tidur hendaknya berwudu.” (HR Abu Dawud).
  3. Hilangnya akal dan perasaan, seperti pingsan, mabuk, atau gila. Hal itu disebabkan karena apabila seseorang kehilangan akalnya, ia tidak mengetahui apakah wudunya telah batal atau belum sebab kentut atau yang lainnya.
  4. Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan dan jari-jari. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menyentuh kemaluannya, janganlah ia salat sampai ia berwudu.” (HR Tirmizi, dan ia menyahihkannya).
  5. Murtad, misalnya dengan mengatakan perkataan yang menunjukkan kepada kekafiran. Dengan demikian, wudu seseorang batal, bahkan semua amalnya menjadi hangus. Allah berfirman, “Jika kamu melakukan kesyirikan, niscaya akan terhapuslah semua amalmu, dan kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65).
  6. Memakan daging unta. Salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah kita harus berwudu lagi karena memakan daging kambing?” Rasulullah saw. menjawab,“Jika engkau mau, lakukan saja,” sahabat tersebut bertanya lagi,“Apakah kita harus berwudu lagi karena memakan daging unta?” Rasulullah saw. menjawab,“Ya.” (HR Muslim). Kendati demikian, sebagian besar sahabat berpendapat tidak harus wudu lagi setelah memakan daging unta dengan alasan hadis tersebut telah terhapus, dan karena para khulafa rasyidin tidak berwudu lagi setelah memakan daging unta.
  7. Menyentuh wanita (istri) dengan syahwat. Hal itu membatalkan wudu. Dengan dalil diperintahkannya wudu setelah menyentuh kemaluan. Sebab, menyentuh kemaluan itu membangkitkan syahwat. Di dalam Al-Muwaththa’ diriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata, “Ciuman seorang suami terhadap istrinya dan meraba istri dengan tangannya termasuk dalam arti kata menyentuh. Maka, barang siapa mencium dan menyentuhnya, ia harus berwudu.” Menyentuh wanita yang membatalkan wudu ini apabila disertai dengan nafsu syahwat. Begitu juga menyentuh kemaluan. Menurut sebagian ulama, jika menyentuhnya tidak disertai syahwat, hal itu tidak membatalkan wudu.

Orang-Orang yang Disunahkan Berwudu

  1. Salis, yaitu orang yang kencing dan kentutnya tidak bisa berhenti dalam sebagian besar waktunya. Ia disunahkan berwudu dalam setiap kali salat. Keadaannya disamakan dengan wanita mustahadhah.
  2. Wanita mustahadhah, yaitu wanita yang selalu mengeluarkan darah pada hari-hari di luar hari rutinnya (mengeluarkan darah haid). Ia disunahkan berwudu untuk setiap salat. Ia disamakan dengan wanita salis. Rasulullah saw. bersabda kepada Fatimah binti Abu Hubaisy, “Kemudian berwudulah engkau untuk setiap kali salat.” (HR Abu Dawud, Tirmizi, dan Nasai).
  3. Setelah selesai memandikan mayat atau menggotongnya. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memandikan mayat, hendaklah ia mandi, dan barang siapa menggotongnya, hendaklah ia berwudu.” Karena hadis ini adalah daif, para ulama menyunahkan wudu bagi orang yang memandikan mayat sebagai bentuk kehati-hatian.)

Sumber: Diadaptasi dari Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir al-Jazairi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Dahsyatnya Proses Sakaratul Maut

20 Agustus 2009 at 5:44 AM (5. hari akhir)

“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).
Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :

1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:7 8).

3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62: 8)

4. Kematian datang secara tiba-tiba.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)

5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .

Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.

Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”

Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim

Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)

(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.

Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)

Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.

Allahumma Amin..

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

sahabat Nabi SAW: ‘ABBAD BIN BISYR r.a – “Ahli Ibadah yang Gagah Berani”

20 Agustus 2009 at 5:19 AM (B.a. sahabat Rasulullah SAW)

Pada perang Dzatu r-Riqo’ ada suatu peristiwa yang patut kita renungkan kemudian kita tiru. Peristiwa itu adalah mengenai seorang shohaby mulia ‘Abbad bin Bisyr radliyallahu ‘anhu. Shohaby yang penuh kesahajaan hingga Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam pun turut memintakan ampun baginya. Lalu siapakah dia? Mari kita selidiki sekilas tentang tokoh mulia ini…

‘ABBAD bin Bisyr, adalah seorang shohaby yang tidak asing lagi dalam sejarah dakwah Islamiyah. Ia tidak hanya termasuk di antara para ‘abid (ahli ibadah), bertaqwa, dan menegakkan sholat tahajud setiap malam dengan membaca beberapa juz Al-Qur’an, tapi juga tergolong kalangan para pahlawan, yang gagah berani, dalam menegakkan kalimah Alloh. Tidak hanya itu, ia juga seorang penguasa yang cakap, berbobot, dan dipercaya dalam urusan harta kekayaan kaum Muslimin.

Ketika Islam mulai tersiar di Madinah, ‘Abbad bin Bisyr Al-Asyhaly Al-Anshory masih muda. Kulitnya yang bagus dan wajahnya yang rupawan memantulkan cahaya kesucian. Dalam kesehariannya dia memperlihatkan tingkah laku yang baik, bersikap dewasa layaknya orang yang sudah dewasa, kendati usianya belum mencapai dua puluh lima tahun.

Dia mendekatkan diri kepada seorang da’i dari Makkah, yaitu shohaby Mus’ab bin ‘Umair radliyallahu ‘anhu. dalam tempo singkat hati keduanya terikat dalam ikatan iman yang kokoh. ‘Abbad mulai belajar membaca Al-Qur’an kepada Mus’ab. Suaranya merdu, menyejukkan dan menawan hati. Begitu senangnya membaca kalamulloh, sehingga menjadi kegiatan utama baginya. Diulang-ulangnya siang dan malam, bahkan dijadikannya suatu kewajiban. Karena itu dia terkenal di kalangan para shohabat sebagai imam dan pembaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam sedang melaksanakan sholat lail di rumah ‘Aisyah radliyallahu ‘anhu yang berdempetan dengan masjid Nabawi. Terdengar oleh beliau suara ‘Abbad bin Bisyr membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu, laksana suara Jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hatinya.

“Ya ‘Aisyah, suara ‘Abbad bin Bisyr-kah itu?” tanya Rosululloh.

“Betul, ya Rosululloh!” jawab ‘Aisyah.

Rosululloh berdo’a, “Ya Alloh, ampunilah dia!”

‘Abbad bin Bisyr selalu turut berperang bersama-sama Rosululloh dalam setiap Ghozawatu r-Rosul (peperangan yang dipimpin Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam). Dalam peperangan-peperangan itu dia bertugas sebagai pembawa Al-Qur’an. Ketika Rosululloh kembali dari peperangan Dzatu r-Riqo’, beliau beristirahat dengan seluruh pasukan kaum Muslimin di lereng sebuah bukit.

Waktu itu, seorang prajurut muslim menawan seorang wanita musyrik yang ditinggal pergi oleh suaminya. Ketika suaminya datang kembali, istrinya sudah tiada. Dia bersumpah dengan Latta dan ‘Uzza akan menyusul Rosululloh dan pasukan kaum Muslimin, ia tidak akan kembali kecuali setelah menumpahkan darah di antara para shohabat.

Setibanya di tempat pemberhentian di atas bukit, Rosululloh bertanya kepada para shohabat, “Siapa yang bertugas jaga malam ini?”

‘Abbad bin Bisyr dan ‘Ammar bin Yasir –rodhiyallohu ‘anhuma- berdiri, “Kami, ya Rosululoh!” kata keduanya serentak. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjadikan kedua-nya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah.

Ketika keduanya keluar ke mulut jalan (pos penjagaan), ‘Abbad bertanya kepada ‘Ammar, “Siapakah di antara kita yang berjaga lebih dahulu?”

“Saya yang tidur lebih dahulu!” jawab ‘Ammar yang bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat penjagaan.

Suasana malam kala itu tenang, sunyi dan nyaman. Bintang gemintang, pohon-pohon dan bebatuan, seakan-akan bertasbih memuji kebesaran Alloh. Hati ‘Abbad tergiur hendak turut melakukan ibadah. Dalam sekejap, ia pun larut dalam manisnya ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya dalam sholat. Nikmat sholat dan tilawah berpadu menjadi satu dalam jiwanya.

Dalam sholat lail itu dibacanya surat Al-Kahfi dengan suara memilukan, merdu bagi siapa pun yang mendengarnya. Ketika ia sedang bertasbih dalam cahaya Ilahi yang meningkat tinggi, tenggelam dalam kelap-kelip pancarannya, seorang laki-laki datang memacu langkah tergesa-gesa. Laki-laki itu melihat dari kejahuan seorang hamba Alloh sedang beribadah di mulut jalan, dia yakin Rosululloh dan para shohabat pasti berada di sana. Sedangkan orang yang sedang sholat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.

Penyusup itu segera menyiapkan anak panah dan memanah ‘Abbad tepat mengenainya. ‘Abbad mencabut panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam lagi dalam sholatnya. Orang itu memanah lagi dan mengenai ‘Abbad dengan jitu. ‘Abbad mencabut juga anak panah kedua ini dari tubuhnya seperti yang pertama. Kemudian orang itu memanah lagi. Lagi-lagi ‘Abbad mencabutnya dan tetap larut dalam munajah-nya.

Ketika tiba giliran jaga saudaranya, ‘Ammar, ‘Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang terlelap tidur lalu membangunkannya seraya berkata, “Bangun! Aku terluka parah dan lemas!”

Sementara itu, ketika melihat mereka berdua, si pemanah buru-buru melarikan diri. ‘Ammar menoleh kepada ‘Abbad. Dilihatnya darah mengucur dari tiga buah lubang di tubuh ‘Abbad. “Subhanalloh! Mengapa kamu tidak membangunkanku ketika anak panah pertama mengenaimu?” tanyanya keheranan.

Aku sedang membaca Al-Qur’an dalam sholat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Alloh, kalaulah tidak karena takut menyia-nyiakan tugas yang dibebankan Rosululloh, menjaga mulut jalan tempat kaum Muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus dari pada memutuskan bacaan dalam sholat tahajudku,” jawab ‘Abbad.

Ketika perang dalam rangka memberantas orang-orang murtad berkecamuk di masa Abu Bakar radliyallahu ‘anhu, kholifah menyiapkan pasukan besar untuk menindas kekacauan yang ditimbulkan oleh Musailamah al-Kadzdzab. ‘Abbad bin Bisyr termasuk pelopor dalam ketentaraan tersebut.

Setelah diperhatikannya celah-celah pertempuran, ‘Abbad berpendapat kaum Muslimin tidak akan menang karena kaum Muhajirin dan kaum Anshor saling menyerahkan urusan satu sama lain. Bahkan mereka saling menbeci dan saling mencela. ‘Abbad yakin kaum Muslimin tidak akan menang dalam pertempuran dengan kondisi pasukan yang tidak kompak itu. Kecuali bila kaum Ashor dan Muhajirin membentuk pasukannya masing-masing dengan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dengan begitu dapat diketahui dengan jelas mana pejuang yang sungguh-sungguh.

Sebelum pertempuran yang menentukan itu dimulai, ‘Abbad bermimpi dalam tidurnya, seolah-olah dia melihat langit terbuka. Setelah dia memasukinya, dia langsung menggabungkan diri ke dalam dan mengunci pintu. Ketika Shubuh tiba, ‘Abbad menceritakan mimpinya itu kepada Abu Sa’id Al-Khudriy. “Demi Alloh, itu seperti benar-benar kejadian, hai Abu Sa’id!” ujarnya.

Ketika perang mulai berlangsung, ‘Abbad naik ke suatu bukit kecil seraya berteriak, “Hai kaum Anshor, berpisahlah kalian dari tentara yang banyak itu! Pecahkan sarung pedang kalian! Jangan tinggalkan Islam terhina atau tenggelam, niscaya bencana menimpa kalian!”

‘Abbad mengulang-ulang seruannya, sehingga sekitar empat ratus prajurit berkumpul di sekelilingnya. Di antara mereka terdapat perwira seperti Tsabit bin Qois, Al-Barro’ bin Malik, dan Abu Dujanah, pemegang pedang Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam.

‘Abbad dan pasukannya menyerbu memecah pasukan musuh dan menyebar maut dengan pedangnya. Kemunculannya menyebabkan pasukan Musailamah al-Kadzdzab terdesak mundur dan melarikan diri ke “Kebun Maut”.

Di sana, dekat pagar tembok “Kebun Maut”, ‘Abbad gugur sebagai syahid. Wajah dan tubuhnya penuh dengan luka bekas pedang, tusukan lembing, panah yang menancap dan lainnya. Para shohabat hampir tak mengenalinya, kecuali setelah melihat-lihat beberapa tanda di bagian tubuhnya yang lain. Semoga Alloh memberikan pahala kepadanya dengan Jannatu l-Firdaus seperti para syuhada’ lainnya. Amin. [brainnews]

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kenapa Musti Baca Al-Qur’an Sih? Kan Kita Tidak Tau Bahasa Arab!

19 Agustus 2009 at 12:36 AM (3. kitab)

Membaca Quran membawa banyak hikmah apalagi dilakukan di bulan Ramadhan Membaca Qur’an membawa banyak hikmah apalagi dilakukan di bulan Ramadhan 

Mungkin bisa jadi diantara kita pernah terbesit pertanyaan sesuai judul diatas, apalagi bagi kita kita yang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama Islam secara khusus seperti jebolan pesantren. Menurut saya itu pertanyaan yang manusiawi.

Memang lebih ideal kita bisa melakukan sesuatu pekerjaan maupun perintah agama bila kita lebih memahami dasar dari manfaatnya bukan sekedar doktrin “Pokoknya”. Coba simak cerita berikut ini.

Ini adalah sebuat cerita penuh hikmah. Seorang Kakek Muslim Amerika hidup di sebuah pertanian di pegunungan bagian timur Kentucky dengan cucu laki2nya. Setiap shubuh sang Kakek selalu bangun awal, duduk di meja dapurnya membaca Al-Quran. Cucunya selalu ingin seperti kakeknya,
dan meniru perbuatan kakenya tersebut sebisanya..

Suatu hari sang cucu bertanya, “kek, aku mencoba membaca Al-Quran seperti kakek, tapi aku tidak mengerti, kalaupun ada yang aku mengerti aku langsung lupa begitu aku menutup Al-Quran. Apa sih manfaat membaca Al-Quran?”
Sang kakek pun berbalik perlahan, menghentikan kerjanya memasukkan batu bara ke tungku dan menjawab. “Ambillah keranjang batu bara ini, dan pergilah ke sungai dan bawakan aku sekeranjang air” Sang cucu melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, tapi semua air tumpah
sebelum ia berhasil kembali ke rumah. sang kakek tersenyum dan berkata “kamu harus bergerak lebih cepat mengangkut airnya” dan menyuruh sang cucu tuk kembali ke sungai mengambil air. Sang cucu pun berusaha lari dengan cepat ketika mengantar air, namun tetap saja airnya tumpah.
Sambil kehabisan nafas, ia pun berkata kepada kakeknya bahwa tidak mungkin mengangkut air dengan keranjang, lalu sang cucu berjalan tuk mengambil ember sebagai ganti keranjang.

Sang kakek berkata, “aku menginginkan sekeranjang air, bukan seember air. kau kurang bekerja keras tuk mengambilnya” , dan si kakek pergi ke pintu tuk melihat si cucu berusaha lagi.

Ketika itu, sang cucu sudah tahu bahwa perbuatannya tidak ada manfaatnya, tapi dia ingin menunjukkan kakeknya bahwa secepat apapun dia lari, air dari keranjang akan tetap tumpah. Dia mengambil air di sungai, lalu berlari cepat ke kakeknya, namun air tetap tumpah sebelum ia sampai ke tempat kakeknya. Maka ia pun berkata, “lilhat kek, gak da manfaatnya kan!”

“jadi kamu berpikir perbuatanmu tidak ada manfaatnya?” , sang kakek berkata, “lihatlah keranjangnya”

sang cucu melihat ke keranjangnya dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa keranjangnya telah berubah. Keranjangnya telah berubah dari keranjang batu bara yang kotor menjadi keranjang yang bersih, luar dalam.

“Cu, itu yang terjadi ketika kau membaca Al-Quran. Kamu mungkin tidak mengerti atau mengingat apa pun, tapi ketika kamu membacanya, kamu akan berubah, luar dalam. Dan itu adalah kuasa Allah atas diri kita”.

Semoga kita bisa menangkap maksud cerita diatas sebagai suatu hidayah untuk kita melakukannya dengan tulus dan ihklas semata hanya untuk-Nya
(Deryorke)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

STANDARD INTERNATIONAL KELOMPOK BATU BARA

16 Agustus 2009 at 11:03 PM (batu bara)

 

 

NO

 

KELOMPOK/JENIS

 

      

          NILAI KALOR

 

 

 

Btu / lb

Kcal/kg

1

Antrasit                  

 

2

 Bituminus AB

C

13.000 – 14.00011.500 – 13.000

10.500 – 11.500

7.204 – 7.7586.373 – 7.208

5.818 – 6.373

 

3

 Sub Bituminus AB

C

10.500 – 11.5009.500 – 10.500

8.300 – 9.500

5.818 – 6.3735.264 – 5.818

4.599 – 5.264

 

4

 Lignite

 

AB 6.300 – 8.300  < 6.300 3.491 -  4.599

  < 3.491

5

Peat      

6

Humates      

7

Wood      

 1 KG = 2,2 lb

1 Btu = 0,2519 Kcal

1 Btu = 0,293  WH

 Kebutuhan udara pembakaran

 Agar tejadi pembakaran sempurna di Furnace  diperlukan  udara  pembakaran ( Total  Boiler Air Flow) yang cukup yang dalam prakteknya udara tersebut terdiri dari Secondary Air yang dihasilkan oleh Forced Draft Fan ditambah Primary Air  yang dihasilkan oleh Primary Air Fan sebagai Pemanas dan transforter  Pulverized Fuel ( PF ). Pulverized Fuel ( PF ) dibanding  Primary Air adalah  1 : 1,8 dari berat. Sedangkan Fuel Air  Ratio antara Fuel yang dibakar dengan Total Boiler Air Flow bervariasi  dari 1 :  8,4  keatas.

 Sedangkan  secara teori Total Boiler Air Flow adalah  terdiri dari Teoritical Air Requirement  ditambah Axcess Air 

 Teoritical Air requirement adalah  kebutuhan udara minimum yang diperlukan untuk mengkonversi secara sempurna  Carbon , Hydrogen  dan Sulphur dalam bahan bakar menjadi produk pembakaran . Sebagaimana diketahui unsure batubara yang menhasilkan panas adalah dari Pembakaran Carbon , Hydrogen dan Sulphur. Besarnya  teoritical Air  Persatuan berat dari Batubara   tergantung dari  besarnya Nilai Kalor dari batubara tersebut.

 Excess Air adalah udara tambahan untuk menjamin pembakaran sempurna karena campuran antara PF dan Udara tidak bisa dijamin sempurna. Besarnya axcess air adalah antara 15 % sampai 20% dari Teoritical Air.

 Daftar  Kebutuhan Udara unrtk Pembakaran ( Combustion  Air ) per Kg batubara.

 

Uraian

Satuan

Anthracitic          Bituminus    Sub Bituminus
 Nilai Kalor Btu/lb Coal Btu/kg Coal

Kcal/kg Coal

11.23024.700

6.223

14.10031.020

7.786

13.08028.776

7.220

11.03024.266

6.090

9.67021.274

5.339

Teoritical Air Requirement lb ud./10.000 Btukg ud./10.000 Btu

Kg Ud./Kg Coal

7,763,52

8,69

7,593,45

10,7

7,553,43

9,87

7,483,40

8,25

7,533,42

7,27

Total Udara Pembakaran  ( Teoritical air + Axcess Air)  Kg ud./kg Coal  

10,4

 12,8  11,8  9,9  

8,7

 

 

Uraian

Satuan

Sub Bituminus

Nilai Kalor rendah /Lignite

 Nilai Kalor Btu/lb Coal Btu/kg Coal

Kcal/kg Coal

9.05719.920

5.000

8.51118.725

4.700

8.30018.260

4.583

7.60516.733

4.200

7.24215.936

4.000

6.94015.268

3.830

Teoritical Air Requirement lb ud./10.000 Btukg ud./10.000 Btu

Kg Ud./Kg Coal

7,563,43

6,77

7,483,4

6,36

7,483,40

6,20

7,483,4

5,7

7,483,4

5,4

7,463,39

5,1

Total Udara Pembakaran  ( Teoritical air + Axcess Air)  Kg ud./kg Coal  

8,13

 

7,6

 

7,44

 

6,8

 

6,5

 

6,12

 Sumber:  Teoritical Air Requirement  Babcok & Wicox Tables

 Daftar kebutuhan udara pembakaran Unit 1-4 pada  Load 400 MW  dengan NK tertentu.

Nilai Kalor Kcal/kgDari batubara Coal Flow ( Kg/jam) Kebutuhan Udara(Kg udara /Kg.batubara ) Total Boiler Air Flow  Untuk Pembakaran ( kg/jam)
5.300 170.000 8,7 1.479.000
5.000 173.400 8,13 1.409.700
4.700 184.500 7,6 1.402.200
4.500 192.600 7,5 1.444.500
4.000 216.700 6,5 1.408.500
3.800 228.200 6,12 1.396.600

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »