Laut Merah Lokasi Firaun Ditenggelamkan
Pandangan ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai kereta kuda dan tulang-belulang manusia di Laut Merah yang diduga merupakan pasukan dan pengawal Firaun.
”Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS Albaqarah [2]: 50).
”Dan, Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu. Maka, setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, Bani Israil berkata, ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya, kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)’.” (QS Al-A’raf [7]: 138).
”Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka, terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS Asysyuara [26]: 63).
Ayat-ayat di atas adalah sebagian dari kisah yang diterangkan dalam Alquran tentang pengejaran Firaun terhadap Nabi Musa AS, Nabi Harun, dan kaum Bani Israil, pengikut Musa.
Ketika mereka (Musa dan kaumnya) meninggalkan Mesir, Firaun tampak sangat marah. Ia merasa Bani Israil sudah tidak mempercayainya lagi. Karena itu, ketika Musa dan kaumnya pergi meninggalkan Mesir, Firaun memerintahkan pasukannya untuk mengejar dan menangkap Musa dan kaumnya.
Dalam perjalanan pengejaran tersebut, saat Musa dan kaumnya berada di pinggir pantai, Bani Israil merasa khawatir kalau mereka akan terkejar oleh Firaun dan pasukannya. Nabi Musa AS mengingatkan kaumnya bahwa mereka tidak akan terkejar karena Allah pasti akan menolongnya.
Hingga akhirnya, Allah memerintahkan Nabi Musa AS untuk memukulkan tongkatnya ke lautan dan atas izin Allah. Maka, terbelahlah lautan tersebut, yang tiap-tiap sisi belahan laut itu setinggi gunung (QS 26: 63).
Maka, Musa dan kaumnya menyeberangi lautan tersebut hingga tiba di seberangnya. Sementara itu, Firaun dan pasukannya sedang berada di tengah-tengah lautan. Ketika itu pula, Allah memerintahkan Musa supaya memukulkan kembali tongkatnya hingga akhirnya tertutuplah lautan tersebut dan menenggelamkan Firaun beserta pasukannya. Sampai kemudian, jasadnya berhasil ditemukan oleh orang-orang Mesir dan kemudian tubuhnya diawetkan (QS Yunus [10]:92). Jasadnya hingga kini masih dapat disaksikan di Museum Tahrir, Mesir.
Laut Merah
Di manakah peristiwa itu terjadi? Apakah di Laut Tengah atau di Laut Merah? Para sejarawan berselisih pendapat mengenai lokasi ditenggelamkannya Firaun. Ada yang menyatakan di Laut Tengah dan ada pula yang menyatakan peristiwa itu terjadi di Laut Merah. Alquran pun tidak menjelaskan secara perinci, kecuali menyebutkan di sebuah lautan. Peristiwa itu terjadi sekitar 3.500 tahun yang lalu atau sekitar 1.500 Sebelum Masehi (SM).
Beberapa sumber menunjukkan, pantai Laut Tengah di Mesir sebagai tempat lautan terbelah. Dalam Ensiklopedia Judaica, dikatakan, ”Pendapat mayoritas dewasa ini mengidentifikasi Laut Merah dalam eksodus sebagai sebuah laguna di pantai Laut Tengah.”
Dalam Kitab Keluaran pada Perjanjian Lama, dikatakan bahwa kejadiannya adalah di Migdol dan Baal-Zephon yang terletak di sebelah utara delta. Pandangan ini berdasarkan Perjanjian Lama. Disebutkan pula bahwa Firaun dan orang-orangnya ditenggelamkan di Laut Merah. Namun, menurut mereka yang berpegang pada pandangan ini, kata yang diterjemahkan sebagai “Laut Merah (Red Sea)” sebenarnya adalah “Lautan Alang-Alang (Sea of Reeds)”. Kata ini dikenal sebagai “Laut Merah” dalam berbagai sumber dan digunakan untuk lokasi tersebut. Namun, “Lautan Alang-Alang” sebenarnya digunakan untuk merujuk kepada pantai Laut Tengah di Mesir. Dalam Perjanjian Lama, ketika menyebutkan jalur yang diambil oleh Musa dan para pengikutnya, kata Migdol dan Baal-Zephon disebutkan dan tempat-tempat ini terletak di utara Delta Nil di pantai Mesir.
Sebagai implikasinya, Lautan Alang-Alang mendukung kemungkinan bahwa kejadian tersebut terjadi di pantai Mesir. Karena, di daerah ini, sesuai dengan namanya, banyak tumbuh alang-alang berkat tanah lumpur delta.
Pendapat yang paling masyhur mengenai peristiwa itu adalah terjadi di Laut Merah. Dalam Alquran terjemahan Departemen Agama tentang ayat 138 surah Al-A’raf [7]) ataupun Albaqarah [2] ayat 50, lokasi tempat Musa menyeberangi lautan itu adalah di sebelah utara Laut Merah.
Laut Merah (Arab: Bahr al-Ahmar) adalah sebuah teluk di sebelah barat Jazirah Arab yang memisahkan benua Asia dengan Afrika. Jalur ke laut di selatan melewati Bab al-Mandib dan Teluk Aden. Sedangkan, di utara terdapat Semenanjung Sinai dan Terusan Suez. Menurut situs wikipedia, laut ini pada tempat yang terlebar berjarak 300 km dan panjangnya 1.900 km dengan titik terdalam 2.500 m. Laut Merah juga menjadi habitat bagi berbagai makhluk air dan koral.
Pendapat yang menyebutkan peristiwa itu terjadi di Laut Merah makin diperkuat dengan ditemukannya roda kereta di dalamnya. Diduga, roda kereta itu dipergunakan Firaun dan pasukannya saat mengejar Nabi Musa AS. Wallahualam. sya/berbagai sumber
Merah tak Selalu Darah
Ada sisi menarik mengapa lautan itu dinamakan Laut Merah. Banyak cerita di masa lampau yang mengaitkan kondisi Laut Merah dengan warnanya. Ada yang menyebutkan, lautan itu berwarna merah karena banyak darah dari binatang-binatang yang mati dan membusuk. Namun, ada pula yang menyebutkan, lautan itu berwarna merah karena ada sebuah batu di dasar laut yang mengeluarkan cahaya berwarna kemerahan.
Pada abad ke-20, orang Eropa menyebut daerah tersebut dengan Teluk Arab. Sedangkan, Herodotus dan Ptolemeus menyebutnya sebagai Arabicus Sinus. Air Laut Merah sendiri sebenarnya tidak beda dengan air laut yang lain.
Penjelasan-penjelasan ilmiah menyebutkan bahwa warna merah di permukaan muncul akibat Trichodesmium Erythraeum yang berkembang. Ada juga yang menjelaskan bahwa namanya berasal dari gunung kaya mineral di sekitarnya yang berwarna merah.
Bahkan, ada yang mengaitkan penamaan merah itu dengan peristiwa yang terjadi di sungai Nil. Ketika Firaun mengklaim dirinya sebagai tuhan dan kaumnya menyembah berhala-berhala yang dipertuhankan, termasuk sungai Nil dan katak (kodok) yang dikeramatkan, Allah lalu menghukum mereka atas kesesatan yang dilakukan.
Menurut para penafsir Perjanjian Lama, yang dimaksud dengan ‘darah’ adalah perubahan sungai Nil menjadi merah. Hal ini dijelaskan sebagai suatu perumpamaan bagi berubahnya sungai Nil menjadi merah kental. Menurut sebuah penafsiran, yang mengakibatkan warna merah adalah sejenis bakteri.
Sungai Nil adalah sumber kehidupan utama bagi bangsa Mesir. Kerusakan apa pun yang terjadi pada sumber ini dapat berarti kematian bagi seluruh Mesir. Jika bakteri telah menutupi seluruh permukaan sungai Nil sampai mengubahnya berwarna merah, setiap mahkluk hidup yang menggunakan air tersebut akan terinfeksi oleh bakteri ini.
Penjelasan terbaru tentang penyebab merahnya warna air telah menunjuk protozoa, zooplankton, ganggang (fitoplankton) air asin atau tawar, dan dinoflagellata sebagai kemungkinan penyebab perubahan warna air. Semua jenis ini, baik tumbuhan, jamur, maupun protozoam mengisap oksigen dari dalam air dan menghasilkan racun yang berbahaya, baik bagi ikan maupun katak.
Patricia A Tester dari National Marine Fisheries Service yang menulis dalam Annals of the New York Academy of Science mencatat bahwa walau kurang dari 50 spesies dari sekitar 5000 spesies fitoplankton yang dikenal, itu beracun. Spesies beracun tersebut dapat membahayakan kehidupan air.
Di masa Firaun, rangkaian bencana seperti ini tampaknya terjadi. Menurut skenario ini, ketika sungai Nil tercemar, ikan-ikan pun mati dan bangsa Mesir kehilangan salah satu sumber nutrisinya yang sangat penting. Tanpa ikan pemangsa, katak-katak dapat berkembang biak dengan sangat bebas di kolam-kolam dan di sungai Nil hingga melimpahi sungai. Kemudian, menghindari lingkungan beracun dan membusuk dengan berpindah ke daratan. Di sini, mereka mati dan terurai bersama ikan-ikan.
Sungai Nil dan tanah yang berdekatan dengannya membusuk dan airnya berbahaya untuk diminum atau digunakan untuk mandi. Terlebih lagi punahnya spesies katak menyebabkan berbagai jenis serangga, seperti caplak dan kutu berkembang biak secara besar-besaran.
Laut Merah muncul karena pemisahan Jazirah Arab dari benua Afrika yang dimulai sekitar 30 juta tahun yang lalu dan masih berlanjut sampai sekarang. Suhu permukaan laut selalu konstan sekitar 21-25 derajat Celcius dengan jarak penglihatan 200 meter. Namun, sering terjadi angin kencang dan arus lokal yang membingungkan. Kota-kota yang terdapat di pesisir Laut Merah antara lain Jeddah, Sharm el Sheikh, Pelabuhan Sudan, dan Eilat.
Adapun negara-negara yang berbatasan dengan Laut Merah adalah Mesir, Israel, dan Yordania di sebelah utara. Sudan dan Mesir di pesisir barat; Arab Saudi dan Yaman di pesisir timur; Somalia, Djibouti, dan Eritrea di pesisir selatan. sya/berbagai sumber
Roda Kereta Firaun Ditemukan di Laut Merah
Dugaan dan penafsiran yang makin menguatkan penemuan jasad Firaun dan peristiwa yang menimpanya di Laut Merah itu adalah ditemukannya roda kereta di laut ini.
Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt, melalui situsnya www.wyattmuseum.com, pada akhir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar Laut Merah.
Menurut Wyatt, benda-benda tersebut kemungkinan merupakan bangkai kereta tempur Firaun yang tenggelam di lautan ketika ia dan pasukannya mengejar Musa bersama para pengikutnya.
Wyatt menyatakan, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, bersama timnya ia juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda di tempat yang sama. Temuan ini makin memperkuat dugaan kebenaran tenggelamnya Firaun bersama balatentaranya di Laut Merah.
Hasil pengujian, yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan, menunjukkan bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam.
Selain itu, Wyatt juga menemukan sejumlah poros roda dari salah satu kereta kuda tersebut dan sebuah roda dengan empat buah jeruji yang terbuat dari emas. Namun, poros roda itu tertutup oleh batu karang sehingga sangat sulit untuk mengenali bentuk aslinya secara jelas.
Penemuan benda-benda tersebut serta jasad Firaun hendaknya menjadi pelajaran bagi manusia untuk mengambil hikmah. ”Maka, pada hari ini, Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus [10]: 92). sya/berbagai sumber

















