Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

1 November 2009 at 4:06 PM (4. rosul)

Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.

Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar banjir besar di zaman Nabi Nuh itu, sangat menarik untuk dikaji secara mendalam. Kisah-kisah itu merupakan gambaran tentang peristiwa masa lalu dan harus dijadikan pelajaran bagi umat manusia masa kini.
Dalam Alquran, kisah Nabi Nuh AS dibahas dalam beberapa surah, di antaranya surah Al-Ankabut [29]: 14-15, Nuh [71]: 1-28, Al-Mu’minun [23]: 23-41, Huud [11]: 25-46, Asy-Syuara [26]: 105-122, Al-A’raf [7]: 59-69, dan Yunus [10] : 71-74.

Sementara itu, dalam Bible (Injil), kisah serupa juga terdapat dalam Genesis 6:15, 7:4-7, 8:3-4, dan 8:29. Begitu pula, dalam Mitologi Sumeria, Mitologi Akkadia, Mitologi Babilonia, serta Kebudayaan India, Wales, Lithuania, dan Cina.

Dari kisah Nabi Nuh AS itu, setidaknya ada dua persoalan besar yang hingga kini masih menjadi kontroversi di kalangan ulama, peneliti, serta pemerhati sains dan teknologi.

Kedua persoalan besar itu adalah apakah banjir besar itu menenggelamkan seluruh dunia (banjir global), atau hanya lokal (di wilayah Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya).

Persoalan kedua, apakah hewan yang naik ke kapal (bahtera) Nuh itu diikuti oleh seluruh hewan yang ada di dunia, ataukah sebagian saja, yakni hewan-hewan yang ada di wilayah dakwah Nabi Nuh AS.

Tak mudah menjawab kedua pertanyaan itu. Sebab, untuk membedah permasalahannya secara lengkap, dibutuhkan data-data empiris dalam berbagai bidang ilmu, seperti geologi, arkeologi, sejarah, astronomi, geografi, termasuk keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab agama.

Yang sudah sangat jelas adalah kapal atau bahtera Nabi Nuh itu dipercaya telah ditemukan, tepatnya di atas Gunung Ararat di perbatasan antara Turki dan Iran pada ketinggian sekitar 2.515 meter di atas permukaan laut (dpl) pada 11 Agustus 1979.

Banjir besar
Di dalam Alquran maupun Bible, disebutkan secara tersurat, banjir itu adalah banjir besar. Sebagian ulama ataupun pemerhati sains dan teknologi menyatakan, banjir besar itu adalah banjir global yang menenggelamkan seluruh dunia.

Pendapat ini diperkuat dengan keterangan dari Genesis 7:4 yang menyebutkan, ”Untuk selama tujuh hari, Aku akan menyebabkan hujan di Bumi, 40 hari dan 40 malam dan setiap makhluk hidup yang telah Aku ciptakan, akan Aku binasakan dari permukaan bumi.”

Dalam Alquran disebutkan, ”Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir’.” (QS Nuh [71]:26-27).

”Dan, bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan, Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir’.” (QS Hud [11]:42).

Penjelasan tentang dibinasakannya seluruh orang kafir dari muka bumi dan besarnya banjir yang gelombangnya laksana gunung itu, dinyatakan oleh sekelompok orang yang berpendapat, banjir itu adalah banjir global karena menenggelamkan seluruh dunia.

Selain itu, kelompok yang mendukung pendapat ini juga menunjukkan data-data berupa penemuan fosil-fosil gajah purba yang disebut mammut. Menurut kelompok ini, fosil gajah purba (mammut) itu ikut musnah ketika banjir besar terjadi.

Fosil mammut itu di antaranya ditemukan di Siberia pada 2 Juli 2007 lalu, juga pada 24 Juni 1977, dan fosil gajah purba (mammut besar) membeku di kutub utara. Menurut hasil penelitian, fosil-fosil gajah purba itu diperkirakan berusia sekitar 10 ribu tahun.

Adapun menurut kelompok yang menyatakan banjir di zaman Nabi Nuh AS itu sebagai banjir domestik (lokal), berdasarkan keterangan ayat Alquran juga. Di antaranya, QS Ar-Ra’du [11]: 7, An-Nahl [16]:36, 84 dan 89, Al-Mu’minun [23]:44, An-Nisa [4]:41, dan Yunus [10]:47. Ayat-ayat tersebut di atas menjelaskan tentang adanya rasul yang diutus oleh Allah pada setiap umat.

Menurut kelompok ini, ada nabi lain selain Nabi Nuh AS yang sezaman dengannya. Contohnya, Nabi Ibrahim hidup sezaman dengan Nabi Luth. Nabi Ibrahim sezaman dengan Nabi Ismail dan Ishak. Lalu, Nabi Ya’kub sezaman dengan Nabi Yusuf, dan lainnya. Karena itu, menurut kelompok ini, banjir besar itu hanya menimpa umatnya Nabi Nuh. Siapakah nabi yang kira-kira hidup sezaman dengan Nabi Nuh itu? Inilah yang perlu dilacak kembali.

Sebab, berdasarkan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, jumlah nabi sebanyak 124 ribu orang dan rasul berjumlah 313 orang. Nabi pertama adalah Adam AS, sedangkan penutup nabi dan rasul adalah Muhammad SAW. Alquran menyebutkan, jumlah nabi dan rasul itu sangat banyak dan hanya sebagian yang disebutkan dalam Alquran.

”Dan, sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS Al-Mu’min [40]:78).

Bila jumlah nabi dan rasul (124 ribu orang) itu dibagi dengan masa hidup para nabi dan rasul sejak Nabi Adam hingga Rasulullah SAW (5672 SM-632 M), setidaknya setiap 19 tahun ada seorang nabi dan rasul yang diutus Allah untuk mengajak umat manusia beriman dan menyembah Allah.

Sejumlah ahli tafsir dan beberapa penulis buku kisah para nabi dan rasul, seperti Ibnu Katsir dan Afis Abdullah (Qishash al-Anbiya’) menyatakan, banjir itu adalah banjir lokal dan hanya umat Nabi Nuh yang dibinasakan. Sedangkan Ahmad Bahjat, juga penulis buku sejenis menyatakan, banjir itu adalah banjir global.

Kemudian, kelompok ini memperkuat argumentasinya dengan penjelasan bahwa berdasarkan hasil penelitian para ahli geologi terhadap banjir besar itu, peristiwa itu terjadi di wilayah mesopotamia yang meliputi wilayah Turki, Iran, dan Rusia. Lantaran daerah itu berupa cekungan raksasa yang luasnya mencapai sembilan hingga 10 juta hektare, atau sekitar 70 persen dari luas Pulau Jawa. Sehingga, banjir saat itu besarnya bisa disamakan seperti lautan karena puncak bukit setinggi 5.000 meter, tidak akan tampak pada jarak 250 kilometer (km).

Dari citraan satelit, lingkup banjir pada saat perahu Nabi Nuh mendarat dapat dilacak dengan membuat garis ketinggian, dan menelusuri level yang sama dengan level lokasi perahu ditemukan. Dari sana diketahui, luas area banjir sekitar empat juta hektare, sedangkan panjang lingkup banjir sekitar 560 km.

Kelompok kedua ini juga berpendapat, suatu kaum tidak akan dibinasakan sebelum Allah mengutus seorang rasul kepada mereka, untuk menerangkan ayat-ayat Allah dan memberikan peringatan.

”Dan, tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS Al-Qashash: 59).

Harun Yahya, penulis asal Turki, turut mendukung pendapat yang mengatakan bahwa banjir besar Nabi Nuh itu adalah banjir domestik dan bukan banjir global, yang menenggelamkan seluruh dunia.

Sebagian hewan
Sama halnya dengan banjir besar yang terjadi, para ahli juga berbeda pendapat mengenai hewan yang dinaikkan ke perahu. Pendapat pertama mengatakan, seluruh jenis hewan mulai dari hewan mamalia, burung, serangga, dan hewan lainnya baik jantan maupun betina, yang liar maupun yang jinak.

Sedangkan kelompok lainnya berpendapat, sebagian hewan saja. Maksudnya, hanya hewan-hewan atau jenis binatang yang ada di wilayah Nabi Nuh, baik liar maupun jinak, dan tidak keseluruhan yang ada di bumi ini. Dan, keterangan Alquran yang menyebutkan ‘hanya’ sepasang (jantan dan betina), telah mengindikasikan bahwa hanya sebagian hewan (binatang), tidak terbatas binatang yang liar ataupun jinak.Wa Allahu A’lam. sya/berbagai sumber


Terjadi Sekitar 6.000 Tahun Lalu

Sebenarnya, kontroversi tentang banjir besar Nabi Nuh AS tidak hanya mengenai banjir global atau lokal dan seluruh atau sebagian hewan, tetapi juga mengenai waktu peristiwa itu terjadi.

Dalam berbagai literatur disebutkan, Nabi Nuh AS hidup sekitar 4.000 sebelum Masehi, atau sekitar 6.000 tahun yang lalu. Dan, Nabi Adam AS diperkirakan hidup sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 8.000 tahun lalu.

Adapun, menurut sebagian riwayat, termasuk dalam Bible, usia Nabi Nuh saat peristiwa banjir besar itu terjadi sekitar 600 tahun. Sedangkan usianya mencapai 950 tahun. Berdasarkan data ini, peristiwa banjir besar itu diperkirakan sekitar 5.400 tahun yang lalu atau sekitar tahun 3.400 SM. Dalam buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul karya Sami bin Abdullah Al-Maghluts, secara lengkap diterangkan masa kehidupan dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW.

Tentu menarik dicermati, pendapat yang mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar 10 ribu tahun yang lalu, sementara Nabi Nuh dan Nabi Adam hidup sekitar 6.000 tahun dan 8.000 tahun yang lalu. Dan, bila hewan berupa mammut (gajah purba) yang ditemukan itu berusia 10 ribu tahun lalu, tentunya peristiwa itu terjadi sebelum zamannya Nabi Adam AS.

Penelitian arkeologi di sekitar Timur Tengah menunjukkan bukti sedimen dan endapan lumpur tua, yang membuktikan memang pernah terjadi air bah luar biasa, yaitu meluapnya dua sungai besar Eufrat dan Tigris persisnya pada 4.000 tahun SM, atau sezaman dengan masa hidup Nuh.

Begitu juga, dengan hasil penelitian yang diungkapkan Kepala Departemen Ilmuwan Arkeologi dari Universitas Attaturk, Turki, yang memperkirakan usia kapal yang ditemukan di atas Gunung Ararat itu sekitar 100 ribu tahun yang lalu.

Jika menilik pada masa kehidupan awal manusia zaman Nabi Adam yang ditulis dalam berbagai buku sejarah, ia hidup sekitar 6.000 sebelum Masehi, lalu mungkinkah usia kapal itu melebihi usia hidup Nabi Adam AS?

Mungkin, bukan usia kapalnya yang mencapai 100 ribu tahun, melainkan usia dari kayu untuk membuat kapal tersebut. Wa Allahu A’lam. sya


Perkiraan Masa Hidup Nabi dan Rasul

—————————-
Nabi    ==> Tahun
—————————-
Adam     ==> 5872-4942 SM
Idris    ==> 4533-4188 SM
Nuh    ==> 3993-3043 SM
Hud    ==> 2450-2320 SM
Saleh    ==> 2150-2080 SM
Ibrahim==> 1997-1822 SM
Luth==> 1950-1870 SM
Ismail==> 1911-1774 SM
Ishak    ==> 1897-1717 SM
Ya’kub==> 1837-1690 SM
Yusuf    ==> 1745-1635 SM
Syuaib ==> 1600-1490 SM
Ayub    ==> 1540-1420 SM
Zulkifli==> 1500-1425 SM
Musa    ==> 1527-1407 SM
Harun    ==> 1531-1408 SM
Daud    ==> 1041-971 SM
Sulaiman==> 989-931 SM
Ilyas    ==> 910-850 SM
Ilyasa==> 885-795 SM
Yunus    ==> 820-750 SM
Zakaria==> 91-1 SM
Yahya    ==> 1 SM-31 SM
Isa==> 1 SM-32 M
Muhammad ==> 571-632 M
—————————–
Sumber : Buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul karya Sami bin Abdullah Al-Maghluts.

Persebaran Umat Manusia Setelah Banjir Besar

Sebagian besar ras manusia saat ini berasal dari keturunan Nabi Nuh AS.

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal.” (QS Al-Hujurat [49]: 13).

”Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS Albaqarah [2]: 213).

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia berasal dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa). Lalu, Adam dan Hawa melahirkan keturunan hingga akhirnya menyebarlah manusia ke seluruh penjuru dunia.

Dalam berbagai literatur, termasuk dalam bukunya Sami bin Abdullah Al-Maghluts yang berjudul Atlas Sejarah Nabi dan Rasul dijelaskan, Adam hidup sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi (SM). Menurut Sami, masa hidup Adam sekitar tahun 5872-4942 SM, dan ia mempunyai 40 orang anak yang dilahirkan secara kembar (berpasangan). Misalnya, Habil dengan Labuda, dan Qabil dengan Iklima. Dari keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa umat manusia saat ini merupakan keturunan Nabi Adam AS. Adam adalah nenek moyang (bapak) manusia pertama.

Seiring perjalanan waktu dan minimnya data yang ada, tak banyak diketahui penyebaran anak cucu Adam hingga Nabi Idris dan Nabi Nuh AS. Sami menjelaskan, Nabi Idris adalah generasi atau keturunan Adam yang keenam. Idris adalah anak dari Yared bin Mahalail bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam AS. Sedangkan Nabi Nuh AS adalah generasi Adam yang kesembilan, atau yang ketiga setelah Nabi Idris. Idris hidup antara tahun 4533-4188 SM, sedangkan Nabi Nuh hidup antara 3993-3043 SM.

Tak diketahui secara pasti, jumlah keturunan masing-masing anak dari Nabi Idris. Dari Adam inilah, akhirnya menyebar anak cucunya hingga menjadi umatnya Nabi Idris. Dengan selisih waktu yang mencapai 300-800 tahun, tentu banyak keturunan Nabi Adam yang menyebar ke berbagai penjuru bumi. Mungkin saja jumlahnya sudah mencapai ribuan orang.

Begitu juga, dengan daerah penyebarannya, tak diketahui secara perinci. Besar kemungkinan ada anak keturunan Adam yang menyebar ke berbagai daerah dan belahan bumi lainnya, dari jazirah Arabia ke Afrika, Eropa, Amerika, Asia, hingga Australia.

Anak cucu Nabi Nuh
Pada zaman Nabi Nuh AS, ketika umat manusia sudah semakin banyak dan beragam tingkah lakunya–ada yang baik dan ada pula yang buruk–Allah mengutus Nabi Nuh untuk menyeru kaumnya pada keimanan dan menyembah Allah SWT. Dalam rentang usianya yang mencapai 950 tahun, ternyata tak banyak kaumnya yang menerima dakwah Nabi Nuh.

Jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 70 orang. Angka ini didapat dari berbagai keterangan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta keterangan Alquran yang menyebutkan jumlah kaumnya yang menerima dakwah Nabi Nuh hanya sedikit. ”Dan, tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS Hud [11]: 40).

Ketika banjir besar terjadi yang menenggelamkan seluruh kaumnya, dan saat bahtera Nuh mendarat di puncak gunung, mulai saat itu dipercaya sebagai awal dari penyebaran umat manusia dan berkembang biaknya binatang-binatang yang ikut dalam perahu Nabi Nuh.

Nabi Nuh mempunyai empat orang anak, yakni Kan’an, Ham, Sam, dan Yafets. Kan’an adalah anak tertua, namun ia tewas diterjang oleh banjir besar, karena tidak mau beriman dengan Nabi Nuh. Dari ketiga anak Nuh (Sam, Ham, dan Yafets) inilah, penyebaran umat manusia periode kedua mulai bermigrasi. Karena itu, Nabi Nuh juga disebut sebagai bapak manusia kedua.

Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah menerangkan, hierarki nasab setiap umat manusia yang ada di bumi ini, kembali kepada anak-anak Nuh yang tiga orang, yakni Sam, Ham, dan Yafets.

Dalam salah satu hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dikatakan, ”Sam adalah moyang orang Arab, Ham adalah moyang Habsyah (Ethiopia, Afrika), dan Yafets adalah moyang orang Rum (Romawi, Eropa).

Al-Qalaqsyandi dalam Nihayat al-Arab fi Ma’rifat Ansab al-’Arab menyebutkan, telah ada kesepakatan di kalangan para ahli nasab (genealogis) dan para sejarawan, seluruh manusia saat ini adalah setelah Nabi Nuh AS, yaitu selain orang-orang yang bersamanya di dalam kapal.

”(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh.” (QS Al-Israa’ [17]: 3). ”Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS Al-Shaffat []:77).

Yafets yang merupakan anak tertua, setelah Kan’an, mempunyai tujuh orang anak. Mereka adalah Al-Turk, Al-Khazar, Shaqlab, Tares, Menesk, Kumari (Gomari), dan Shin. Mereka menyebar ke kawasan antara Timur dan Barat Babilonia (wilayah Nuh saat itu), sebagaimana keterangan Abu Hanifah al-Dainuri. Orang Cina dipercaya sebagai keturunan dari Yafets, yakni Shin bin Magog bin Yafets. Dan, Ya’juj dan Ma’juj adalah anak dari Magog bin Yafets.

Adapun Ham juga mempunyai anak, antara lain Al-Sind, al-Hindi (India), Zandj (negro), Habasyah (Ethiopia), Nubah, dan Kan’an. Mereka menyebar ke wilayah Selatan dan Dabur (barat).

Sedangkan anak-anak Sam bin Nuh adalah Iram, Arpakhsad, Elam, Elifar, dan Asur. Mereka tinggal bersama anak paman mereka Jamm, raja di tanah Babel (Babilonia).

Ad-Dainuri berkata, ”Ketika anak-anak Nuh keluar, tergeraklah hati seluruh anak Nuh untuk keluar dari babel. Maka, Khurasan bin Elam bin Sam keluar. Demikian juga, dengan Pers bin Asur, Rum bin Elifar, Armen bin Nouraj, Kerman bin Tarah, Heitjal bin Elam. Mereka adalah cucu Sam bin Nuh. Masing-masing singgah bersama anak-anaknya di daerah yang dinamakan dengan namanya dan dinisbatkan kepadanya.” sya/berbagai sumber


Nenek Moyang Indonesia dari Yunan?

Pertanyaan seputar banjir besar Nabi Nuh dan penyebaran umat manusia yang diklaim berasal dari anak cucunya, seolah tak habis-habisnya untuk dibahas.

Bila keturunan dan anak cucu Nabi Nuh sudah diketahui penyebarannya, pertanyaan yang lain adalah ke manakah keturunan orang-orang beriman yang turut serta dalam perahu Nabi Nuh selain anak-anaknya itu?
Siapakah yang melahirkan orang-orang Australia, Amerika, dan lainnya? Apakah juga berasal dari keturunan ketiga anak Nabi Nuh? Bila demikian, manakah anak keturunan dari orang-orang beriman yang naik bersama Nuh dalam bahteranya? Inilah yang masih diperdebatkan.

Sebagian ahli sejarah mengatakan, bangsa-bangsa lainnya selain disebutkan di atas, berkembang dari umat Nabi Nuh yang bersamanya sewaktu banjir besar terjadi. Setelah air surut, mereka kemudian menyebar hingga ke berbagai pelosok negeri dan benua. Namun, keterangan ini sangat sedikit.

Melayu Austronesia
Siapa nenek moyang orang-orang Indonesia? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Dalam berbagai buku-buku sejarah disebutkan, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan. Namun, ada pula yang menyebutkan dari Hindi (India). Sementara itu, nasab Yunan adalah keturunan dari Yafets bin Nuh. Mungkinkah orang-orang Indonesia keturunan dari Yafets bin Nuh?
Menurut sebagian ahli sejarah, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari rumpun Melayu Austronesia. Awalnya, nenek moyang Indonesia ini tinggal di daratan Indo-China (Vietnam), kemudian mencari daerah yang lebih luas. Mereka pun menyebar dengan menggunakan perahu bercadik (sayap).

Pendapat ini menjelaskan, sekitar 2.000-300 SM, perpindahan rumpun Melayu Austronesia dari teluk Tonkin ke pulau-pulau di Nusantara melalui dua jalur, yakni selatan (penyebaran kebudayaan kapak persegi), dan kedua melalui utara (penyebaran kebudayaan kapak lonjong).

Adapun wilayah penyebaran rumpun Melayu Austronesia ini adalah Indonesia, Malaysia, Mikronesia, Melanesia, dan Polinesia. Lalu, menyebar lagi hingga kepulauan Madagaskar dan pulau Paskah. Perpindahan itu disebabkan oleh bencana alam, ketiadaan binatang buruan, serta adanya serangan dari bangsa lain.

Menurut Bachtiar Rifai, pemerhati sejarah dan kebudayaan Indonesia, rumpun melayu Austronesia yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia, berkembang melalui dua jalur.

Bachtiar menjelaskan, migrasi pertama rumpun melayu yang disebut juga dengan Protomelayu (melayu tua) dari Vietnam masuk ke semenanjung Malaya, lalu ke Sumatra dan kalimantan. Sedangkan dari jalur timur, melalui Taiwan, Filipina, Kalimantan, dan Sulawesi. Dari sini berkembang suku Batak, Dayak, dan Toraja. Ketiga suku ini mempunyai kebudayaan yang sangat mirip.

Selanjutnya, pada migrasi kedua, dilakukan oleh bangsa Deteromelayu (melayu muda), dengan jalur migrasi melalui Yunan-Vietnam, Semanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Sehingga, berkembang suku Jawa, Melayu, Minang, dan Bugis.

Adapun orang Papua, Timur, Ambon, NTB, NTT, dan sekitarnya merupakan migrasi dari keturunan suku Negroid, Wedoid, Sakai, Kubu, Semang, dan Aborigin. sya/berbagai sumber


Ragam Bahasa dan Dialek

Sejak kapankah adanya perubahan bahasa manusia? Yang pasti, ketika Adam diturunkan ke bumi, ia hanya menggunakan satu bahasa. Kemudian, bahasa itu diturunkan hingga kepada anak cucunya. Bahasa apakah itu? Tak ada keterangan resmi, apakah bahasa Arab, Suryani, Ibrani, Inggris, Prancis, Spanyol, Indonesia, atau lainnya.

Abu Hanifah Al-Dainuri, sebagaimana dikutip Sami bin Abdullah Al-Maghluts, menyatakan, pada masa Jamm (anak cucunya Nabi Nuh), terjadi kekacauan bahasa (language isolates). Anak-anak Nuh sudah semakin banyak sehingga semakin padat penduduknya. Seluruhnya menggunakan bahasa Suryani, yaitu bahasanya Nabi Nuh AS. Pada suatu masa, terjadi kekacauan bahasa di antara mereka. Ungkapan mereka mengalami perubahan dan sebagian bercampur pada sebagian lainnya sehingga setiap kelompok berbicara dengan bahasa sendiri, yang diikuti oleh keturunan mereka hingga sekarang.

Kemudian, mereka keluar dari wilayah Babilonia dan masing-masing kelompok berpencar ke arah masing-masing. Kelompok yang pertama kali keluar adalah anak-anak Yafets dan mereka terdiri atas tujuh orang bersaudara, yakni At-Turk, Al-Khazar, Shaqlab (Slave), Taris, Menesk, Kumari (Gomari), dan Shin. Mereka mengambil arah dan menetap di bagian antara Timur dan Utara.

Kemudian, anak-anak Ham bin Nuh yang berjumlah tujuh orang menyusul langkah anak-anak Yafets. Mereka adalah al-Sind, al-Hind (India), Zandj (negro), Habsy (Ethiopia), Nubah, dan Kan’an. Mereka menuju ke wilayah antara Selatan dan Dabur (barat) Babilonia.

Sementara itu, anak-anak Sam bin Nuh tetap tinggal bersama dengan anak paman mereka, Jamm, raja di tanah babel, dengan segala perubahan dan perbedaan bahasa mereka.

Ada pula yang mengatakan, asal mula bahasa adalah bahasa Arab. Dari Arab ke Mesir, terus ke Eropa. Dari huruf hijaiyah ‘Alif, Ba, Ta, Tsa’ lalu berkembang menjadi ‘alfa, betha, omega’.

Sebagian lagi, dari Arab ke Persia, India, Melayu. Seperti Dwi, Ika, Diva yang merupakan kata-kata dari India. Adapun bahasa Cina berkembang ke bahasa Jepang dan Korea.

Lalu, dari manakah bahasa Polynesia yang mendiami pulau-pulau Pasifik, seperti Papua, Aborigin di Australia, Hawaii, dan sekitarnya? Wa Allahu A’lam. sya/www.republika.co.id berbagai sumber

1 Komentar

  1. Wahyu Bintang berkata,

    Nenek moyang orang Jawa/Nusantara jauh lebih tua dari Nabi Nuh AS, yaitu Keturunan dari Nabi Idris AS.
    Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia saat ini yaitu Paparan Sunda (Sunda Land)–lihat di google earth, pulau Sumatera, jawa, kalimantan, semenanjung malaysia dulunya menyatu dengan daratan asia. Paparan Sunda/Atlantis tenggelam stl banjir Nuh krn beberapa Gn. berapi meletus secara bersamaan, spt. letusan dahsyat yg menyebabkan terbentuknya Danau Toba, Gn. Krakatau, Gn. Semeru dan yg plg dahsyat adalah gunung Tambora.
    Nusantara kita ini dulunya adalah pusat peradaban dunia, dan setelah banjir Nuh paparan sunda tenggelam sehingga penduduknya menyebar ke seluruh dunia dan mewarnai peradaban yang disinggahinya.

Tulis sebuah Komentar